Budidaya Pembesaran Ikan Mas

Ada beberapa nama sebagai sebutan akrab ikan mas (Cyprinus carpio). Dalam bahasa inggris dikenal sebagai  Common carp. Di sumatera disebut ikan roya atau ikan ameh. Di jawa disebut tombro dan ikan mas-masan.

Ikan mas berasal dari Cina dan Rusia. Di Indonesia, mulai masuk ke ciamis (Galuh), Jawa Barat, pada tahun 1810, dan mulai berkembang tahun 1860. Selanjutnya ikan mas masuk sumatera, yaitu di Bukittinggi, berkembang tahun 1903, di Padang Sidempuan tahun 1903, di Medan 1905. Selain di Sumatera, ikan mas juga dikembangkan di Sulawesi, yaitu di Tondano pada tahun 1895, di Manado 1905 dan di sulawesi Selatan mulai tahun 1936. Di Bali dan Flores ikan mas mulai dikembangkan pada tahun 1932.

Penyebaran ikan mas sudah sangat lamadan meluas di berbagai daerah Indonesia karena pembudi-dayaannya cukup mudah. Ikan mas dapat beradaptasi dengan baik di berbagai lingkungan.

Untuk memudahkan identifikasi dan melihat kekerabatan ikan mas dengan ikan lain telah dilakukan klasifikasi berdasarkan ilmu taksonomi. Klasifikasi ikan mas secara lengkap adalah sebagai berikut :

Fillum    : Chordata
Subfillum (Anak Fillum)    : Vertebrata
Class (Kelas)    : Pisces
Subclass (Anak Kelas)    : Actinopterygii
Infra Class    : Teleostei
Super Ordo    : Ostariophysi
Ordo (Bangsa)    : Cypriniformes
Subordo (Anak Bangsa)    : Cyprinoidea
Famili (Suku)    : Cyprinidae
Subfamili (SubSuku)    : Cyprininae
Genus (Marga)    : Cyprinus
Spesies (Jenis)    : Cyprinus carpio L.

Tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan (protaktil). Pada bagian interior mulut terdapat dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang berbentuk tiga baris gigi geraham.

Secara umum selurtuh tubuh ikan mas ditutupi sisik. Namun demikian ada pula varietas yang hanya memiliki sedikit sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam sisik type sikloid (lingkaran).

Sirip punggung (dorsal) memanjang, pada bagian belakang berjari keras, dan di bagian akhir, yakni sirip ketiga dan keempat, bergigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventol). Sirip dubur (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yakni berjari keras dan bagian akhir bergigi.

Garis rusuk (linea laterais: gurat sisi) pada ikan mas tergolong lengkap, berada di pertengahan tubuh, melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangakl ekor.

Habitat ikan mas adalah perairan air tawar yang airnya tidak terlalu dalam dengan aliran yang tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas termasuk golongan ikan omnivora, yaitu ikan pemakan berbagai jenis pakan dari tumbuhan maupun binatang renik. Makanan utamanya adalah binatang dan tumbuhan yang berada di dasar dan tepian perairan.

Di alam ikan mas memijah pada awal musim hujan. Secara alamai pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Namun di kolam budidaya, ikan mas dapat dipijahkan sepanjang tahun dan tidak tergantung musim. Telur ikan mas menempel pada substrat tanaman air dan rerumputan yang menutup permukaan. Telur ikan ini berbentuk bulat, bening dengan diameter 1,5-1,8 mm dan berbobot 0,17-0,2 mg. Larva ikan mas mempunyai kantong kuning telur sebagai cadangan makanan yang akan habis 2-4 hari setelah telur menetas. Larva menjadi kebul setelah 4-5 hari. Pakan alami kebul yaitu zooplankton, sperti rotifera, moina, daphnia. Pada umur 2-3 minggu, kebul akan menjadi burayak berukuran 1-3 cm, dengan bobot 0,1-0,5 gram. Umur 5-6 minggu burayak tumbuh menjadi putihan yang berukuran panjang 3-5 cm dan bobot 0,5-2,5 gram. Setelah berumur 3 bulan, burayak akan menjadi gelondongan yang mempunyai bobot sekitar 100 gr/ekor.

Jenis-jenis ikan mas yang sering dibudidayakan dengan tujuan konsumsi adalah :
a. Ras Majalaya. Ras ini berkembang pertama kali di Majalaya, Bandung, Jawa Barat. Badannya berukuran relatif lebih pendek dengan punggung lebih tinggi dan lancip dibanding ikan mas lainnya. Perbandingan panjang dan tinggi adalah 3,2:1. Punggung membungkuk pada batas antara kepala dan punggung. Warna sisik hijau keabuan dengan tepi lebih gelap. Sisik dibagian bawah insan dan bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan. semakin kearah punggung, warna sisik akan semakin gelap. Ikan mas majalaya relatif lebih jinak dan biasa berenang dipermukaan. Ikan mas ini unggul dalam pertumbuhannya yang relatif cepat dan tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophilla. Ikan mas Majalaya telah dilepas oleh Menteri Pertanian pada tahun 1999 dalam rangka HUT Badan Litbang Pertanian ke-25.
b. Ras Punten. Ikan ras Punten telah dikembangkan sejak 1933 di Desa Punten, Malang, Jawa Timur. Badannya pendek dan bagian punggung relatif lebar dan tinggi sehingga terkesan membuntak (big belly). Perbandingan panjang total dan tinggi yaitu 2,3-2,4:1. Jadi ikan mas ras Punten terkesan lebih pendek. Warna ikan mas Punten adalah hijau gelap. Mata agak menonjol dan gerakannya lambat dan jinak.
c. Ras Putri Jogja atau Si Nyonya. Dikatakan ras si nyonya karena mudah bertelur. Badan ikan ras si nyonya relatif panjang dengan punggung yang relatif rendah dibanding ras punten maupun majalaya. Perbandingan panjang dan tinggi badan ikan adalah 3,6:1. Sisik ikan berwarna kuning muda (jeruk sitrun). Pada ikan yang masih muda, mata agak menonjol dan menjadi sipit bila telah dewasa. Ikan ras si nyonya lebih jinak dibanding ras punten, suka berkumpul dipermukaan air. Jumlah telur (fekuditas) ikan mas si nyonya 114.000-135.000 dengan diameter telur 0,3-1,5 mm.
d. Ras Merah. Bentuk badannya relatif panjang. Dibanding ras si nyonya, penampang badan bagian punggung relatif lebih rendah dan tidak lancip. Matanya agak menojol. Ciri yang mencolok adalah warna sisiknya yang merah keemasan. Gerakannya aktif, tidak jinak, dan suka mengaduk-aduk dasar kolam.
e. Ras Taiwan. Bentuk badan ikan mas ras Taiwan relatif panjang dengan penampang punggung berbentuk busur agak membulat. Sisik berwarna hijau kekuningan sampai kuning kemerahan ditepi sirip dubur dan dibawah sirip ekor. Ikan ini responsif, saling berebut makanan yang terapung.
(Anonim : Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar / BPBPAT, 2005)

Ikan mas dapat tumbuh normal bila dipelihara pada lokasi dengan ketinggian 150-1000 m diatas permukaan laut (dpl).

TABEL STANDAR KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN MAS
Parameter Kualitas Air
Standar Kualitas Air
Suhu
20 – 25 °C
Ph
7 – 8
Oksigen Terlarut (DO)
> 5 mg/lt
NH3
<0.02 mg/lt
Kekeruhan
40 – 60 cm
Karbondioksida (CO2)
2 – 11 mg/lt
Nitrit (NO2)
<0.05 ppm
Alkalinitas
> 20 mg/lt
Kesadahan Total
> 20 mg/lt

Ikan mas bersifat herbivora, menyukai air yang jernih dan mengalir. Ikan ini masih satu famili dengan ikan tawes dan nilem, yaitu dalam famili Cyprinidae. Ikan mas tidak memiliki alat pernafasan yang berupa labirynth sebagaimana yang terdapat pada ikan lele maupun gurami sehingga tidak tahan hidup di air dengan kadar oksigen rendah.

Agar budidaya ikan mas mendatangkan keuntungan yang optimal, perlu diperhatikan hal berikut :
a. Tempat budidaya. Budidaya pembesaran ikan mas bisa dilakukan dengan menggunakan kolam air deras (KAD), karamba, maupun karamba jaring apung (KAJ). Budidaya pada kolam air deras akan lebih baik bila kondisi airnya jernih seperti di daerah pegunungan dan memiliki suhu 20-25 °C. Ikan mas juga bisa dipelihara di karamba. Air sungai ataupun aliran irigasi yang digunakan untuk meletakkan karamba yang dipilih untuk meletakkannya harus jernih dan tidak tercemar limbah kimia. Budidaya dengan karamba jaring apung harus memperhatikan kapasitas / daya dukung perairan. Bila total area untuk budidaya sudah melebihi  1% waduk ataupun danau tersebut sudsh tidak memadai untuk digunakan sebagai tempat budidaya.
b. Benih. Masing-masing daerah mempunyai kesenangan yang berbeda terkait dengan jenis ikan yang akan dibudidayakan. Yang banyak dibudidayakan di Bogor, Sukabumi, Bandung Garut, Tasikmalaya adalah jenis ikan mas Majalaya. Sedang petani Yogyakarta menyukai jenis si nyonya. Untuk daerah malang dan sekitarnya, petani ikan menyukai jenis punten. Pada tahung 1999 jenis ikan mas majalaya sudah ditetapkan sebagai jenis unggul melalui SK Menteri Pertanian.
Jumlah penebaran benih ikan mas dengan bobot 25 gr/ekor yang dibudidayakan pada : 
Kolam Air Deras (KAD) adalah 100 ekor/m3.
Karamba adalah 50 ekor/m3.
Karamba Jaring Apung adalah 50 ekor/m3.
c. Pengelolaan Pakan. Pemberian pakan ikan mas harus dilakukan dalam jumlah yang tepat. Pakan yang diberikan tidak boleh berlebihan ataupun kurang. Pakan yang berlebih akan mengakibatkan memburuknya kualitas air akibat sisa paka, sedang kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Pemeliharaan ikan di kolam air deras harus menggunakan pakan yang berkualitas karena air kolam miskin makanan alami. Pakan yang baik untuk ikan mas adalah yang mengandung protein 25%. Dalam sehari jumlah pakan yang diberikan adalah 3,5% dari berat total ikan aktual (biomass). Jumlah pakan tersebut dibagi menjadi tiga, diberikan pagi, siang dan malam hari. Untuk mengetahui berat ikan aktual (biomass) dilakukan dengan sampling berat rata-rata ikan (Mean Body Weight,MBW). Biomass ikan adalah MBW dikalikan taksiran populasi ikan yang masih hidup.
d. Pengelolaan Kualitas Air. Pemeliharaan ikan mas di kolam air deras dan karamba perlu memperhatikan kualitas air yang digunakan untuk budidaya. Untuk budidaya pada KJA perlu dilihat apakah area KJA pada lokasi perairan yang digunakan untuk budidaya sudah lebih dari 1% total luas perairan. Bila persentase luas permukaan untuk budidaya melebihi 1% maka penambahan KJA akan mengakibatkan semakin menurunnya kualitas air. Sisa pakan dan kotoran akan menumpuk didasar air, meningkatkan kadar amonia, fluktuasi pH, dan semakin pekatnya plankton. Kondisis tersebut dapat mengakibatkan terjadinya umbalan (Up Welling), yang mana bahan sisa yang ada di dasar kolam naik ke eprmukaan. Umbalan akan mengakibatkan kematian iakan budidaya karena keracunan amonia dan kandungan oksigen pada air yang terlalu rendah.
Umbalan biasa terjadi sehabis hujan lebat yang mengakibatkan suhu dipermukaan air menjadi dingin. Air dan bahan orgsanik yang ada di dasar perairan, yang suhunya lebih hangat, akan naik karena memiliki berat jenis (BJ) yang lebih ringan. Pada tahun 1997 terjadi kematian massal ikan budi daya di Danau Maninjau (Luas : 9.950 Ha). Ditaksir ada 950 Ton Ikan yang mati pada saat itu. Nilainya mencapai 2,7 miliar. Pergerakan massa air dari dasar ke permukaan dengan membawa bahan organik beracun juga sering terjadi di Waduk Cirata (7.900 Ha). Hal ini disebabkan oleh daya dukung perairan yang melemah akibat terlalu banyaknya Karamba Jaring Apung (KJA).
e. Pencegahan Penyakit. Pada budidaya di kolam deras, budidaya di karamba yang diletakkan di sungai, dan budidaya di KJA, airnya selalu mengalir dengan baik sehingga resiko serangan penyakit relatif rendah. Walaupun demikian petani harus tetap waspada.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Budidaya Pembesaran Ikan Mas"

Posting Komentar