Postingan Terpopuler

BUDIDAYA IKAN SIDAT

Ikan Sidat ( Anguilla marmorata, Anguilla bicolor ) mempunyai nama daerah sidat, ulin, lumbon, pelus (jawa), Moa, lobang, larak, denong, gatedng, mengaling, lara, luncah dan sigili. dalam bahasa inggris disebut Giant mottled Eel.

Di dunia terdapat 350 jenis ikan sidat, 19 jenis diantaranya terdapat di indonesia. namun demikian hanya 2 jenis yang sering dibudidayakan yaitu sidat kembang ( Anguilla marmorata ) dan sidat anjing ( Anguilla bicolor )

Daging ikan sidat mempunyai rasa yang khas dan sangat lezat sehingga sangat diminati. Kandungan gizi daging sidat relatif lebih tinggi dibanding dengan ikan lain. Daging sidat mengandung vitamin A 4.700IU/100 gram, sedangkan hati sidat mengandung Vitamin A 15.000 IU/100 gr. bandingkan dengan mentega yang kandungan vitaminnya hanya 1.900 IU/100gr. kandungan DHA sidat 1.337 mg/100gr, ikan salmon 820 mg/100gr, ikandungan EPA sidat 742 mg/100gr, ikan salmon 492 mg/100gr.

Orang Jepang sangat menyukai sidat, yang diolah menjadi masakan khas Jepang : Kabayaki. Setiap tahun masyarakat jepang mengadakan acara makan sidat yang disebut DOYO NO USHI NOHI.

Budi daya sidat di Karawang berhasil mengembangkan dua species lokal, yaitu sidat kembang (Anguilla marmorata) dan sidat anjing (Anguilla bicolor), dan satu species introduksi dari australia, Anguilla autralis occidentalis. pada bulan agustus 2009 telah dimulai ekspor sidat yang dilepas oleh menteri kelautan dan perikanan Freddy Numberi.

Di perfektur Shizuoka, sebelah barat daya Tokyo, dipulau Honsu, Jepang, budi daya sidat sudah dikelola dengan baik. di Jepang budidaya sidat dilakukan disekitar danau yang airnya tergolong payau dengan membesarkan sidat muda (elver) hasil tangkapan. Sidat muda ditangkap dimuara sungai saat hendak memasuki perairan air tawar.

Ikan sidat terdapat disungai-sungai besar di Asia, Australia, Amerika dan Eropa. Ada 350 jenis sidat di dunia. di Indonesia, sidat tersebar disungai-sungai yang mengalir menuju laut dalam seperti din pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Fillum                                             : Chordata
Sub Fillum                                      : Vertebrata
Class ( kelas )                                : Pisces
Ordo  ( bangsa )                            : Anguiliformes
Famili ( Suku )                               : Angulidae
Genus (marga )                             : Anguilla
Species ( jenis )                             : Anguilla marmorata, Anguilla bicolor

Tubuh sidat seperti belut, panjang dan licin. Perbedaan sidat dengan belut, sidat mempunyai sirip punggung, sirip dubur dan sirip ekor yang sempurna, sedangkan belut tidak mempunyainya.

Sidat dewasa bisa mencapai bobot 25 kg, panjang 160 cm, dengan garis tengah 7,5cm. Sidat kecil hidup diperairan tawar seperti di sungai, danau, waduk, kolam, dan sawah. Setelah dewasa sidat bermigrasi ke lautan dalam untuk memijah. sifat ini disebut katadromous.

Sidat bermigrasi ke laut yang dalam, sidat mengalami perubahan warna tubuh, penurunan bobot dan panjang tubuh karena tidak makan. setelah selesai memijah, induk akan mati. induk sidat yang langsung mati setelah memijah sampai kini masih merupakan misteri alam yang belum terungkap. di cekungan laut anak-anak sidat yang berukuran 5mm tinggal dan setelah berukuran 25mm naik ke perairan diatasnya dan akan naik lagi setelah berukuran 45mm. Saat berukuran 75mm barulah anak sidat itu mencapai muara sungai.

Anak sidat yang baru menetas yang awalnya tidak berpigmen ( glass eel ), akan berusaha mencapai muara sungai dan kemudian menyusuri sungai yang merupakan habitat induknya dahuli berada.
Sidat merupakan ikan nokturnal, aktif di malam hari dan istirahat di siang hari. karena tubuhnya memanjang seperti belut, sidat sangat pandai berenang di tempat yang sempit ataun melewati lobang di kolam. sidat termasuk ikan pemakan daging ( karnivora ). pada budidaya intensif, sidat bisa diberi pakan buatan dengan kadar protein tinggi.

Sampai saat ini untuk persediaan bibit ikan sidat masih mengandalkan tangkapan dari alam. bibit sidat sangat melimpah terutama pada sungai-sungai yang bermuara di samudera/laut dalam, seperti sungai di pantai selatan jawa maupun sungai disisi barat sumatra.

Penangkapan sidat dilakukan dengan bubu, perangkap ikan yang berbentuk corong kerucut. bubu dibungkus dengan kasa plastik agar bibit sidat tidak bisa lolos. mulut bubu menghadap ke hilir, ke arah muara. bubu diletakan terapung sedikit, tidak boleh terendam semuanya. bagian dalam bubu di isi umpan daging, ikan, telor yang dibungkus kain supaya tidak tergerus air. telur atau   daging busuk pun masih bisa digunakan. bubu di periksa setiap pagi.

Penelitian penangkapan larva sidat yang dilakukan Agung Budiharjo pada bulan april hingga oktober 2007, di trisik muara sungai progo, yogyakarta, berhasil menangkap jenis Anguilla bicolor bicolor, Anguilla bicolor pasifica, Anguilla marmorata, Anguilla celebensis.

Hasil penelitian tersebut, 2498 ekor larva tertangkap, 55,44% adalah jenis Anguilla marmorata, sidat kembang. puncak migrasi terjadi pada bulan mei ( 25,2%). waktu migrasi berdasarkan peredaran bulan adalah pada bulan gelap (89,3%). waktu migrasi berdasarkan jam, yaitu pukul 24:00 - 02:00wib (75,7%). pada saat laut akan pasang larva sidat lebih banyak yang migrasi.

Species sidat yang terdapat di Indonesia ada enam yaitu Anguilla Marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla bornensis, Anguilla bicocor bicolor, Anguilla bicolor pacifica. Dari enam tersebut yang sering di budidayakan di Indonesia adalah Anguilla marmorata dan Anguilla bicolor. Di negara lain, species yang sering dibudidayakan adalah  Anguilla anguilla (Eropa), Anguilla rostrata (amerika), Anguilla australis accidentalis ( Australia dan Selandia Baru ), Anguilla japonica (Japan ).

Sidat pada fase larva disebut glass eel. Karena belum mempunyai pigmen. larva sidat hidup di air payau. sidat muda pada fase juvenil dan fingerlink sudah mampu hidup di air tawarbaik di dataran rendah atau pun dataran tinggi.sidat bisa hidup di dataran tinggi batu raden dan sudah di budidayakan di dataran tinggi magelang.

Jepang, China, dan Italia sudah lama membudidayakan sidat. budidaya sidat di indonesia masih dalam tahap pengembangan. budidaya sidat di mulai di tambak apndu kerawang, milik departemen perikanan dan kelautan. dalam skala kecil masyarakat juga sudah membudidayakan sidat.

Agar budi daya sidat dapat menguntungkan, hal-hal yang perlu diperhatikan :

A. Benih
Benuh sidat yang digunakan untuk budi daya ada 3 macam :
1. Elvers atau glass eel, mempunyai berat 0,15 gr ( 1kg berisi 6000 ekor ). dibesarkan di kolam semen dengan salinitas 3-6 ppt. untuk membesarkan sidat dengan ukuran ini diperlukan pengetahuan yang lebih banyak tentang sidat mengingat kondisinya yang masih rawan. padat tebar elvers yang dipelihara pada kolam-kolam kecilberpompa aerator adalah 2000 ekor/m2.
2. Juvenil berat 3gr. kepadatan tebar pada kolam kecil 50 ekor / m2.
3. Finger link berat 15-20 gr hingga mencapai ukuran konsumsi. padat tebar 5 ekor/m2. beni9h sidat untuk pembesaran yang biasa dipakai untuk budidaya adalah ukuran finger link. dari ukuran 20 gr dalam waktu 8 bulan bisa mencapai 900 gr / sidat.

B. Tempat Budi Daya
Untuk budai daya pembesaran sidat bisa menggunakan kolam air tenang (KAT) dengan dinding bambu dan kontruksi semen di maksudkan agar sidat tidak bisa lolos keluar. Di Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, budidaya sidat dilakukan di kolam terpal dengan kontruksi bambu dengan ukuran 4x5 m2. Untuk menjaga agar kandungan oksigen terpenuhi, petani menggunakan pompa aerator kecil yang biasa dipakai akuarium. Kolam dengan kontruksi bambu yang dilapisi terpal bisa dibuat dihalaman rumah maupun di dalam rumah.  kolam dari terpal ini lebih ekonomis. Budidaya yang lebih intensif  dengan investasi besar bisa dilakukan  di keramba  jaring apung yang ditempatkan di waduk atau danau. untuk menjaga agar sidat tidak lolos, ukuran mata jaring dan ukuran bibit perlu diperhatikan. selain itu juga perlu diberi lapisan hapa mengelilingi jaring apung.

C. Pengelolaan Pakan
Saat bibit sidat masih berupa larva/ elvers/ glass eel, pakan yang diberikan adalah cacing tubifex atau cacing sutra. cacing diberikan pada wadah, saat sidat sudah mencapai ukuran 15-20gr, sidat bisa diberi pakan alami berupa keong mas yang telah di hilangkan cangkangnya dan dicacah halus. menurut Sutejo, koordinator petani ikan sidat di mertoyudan, magelang, sidat dari dari ukuran finger link bisa tumbuh baik dengan pakan keong mas yang dicacah. untuk mempercepat pertumbuhan sidat, Sutejo melakukan pergantian air secara berkala.
Selain diberi pakan segar alami, sidat juga bisa diberi pakan buatan. pakan buatan diberikan dalam bentuk pasta yang dibuat dari campuran dedak ditambah dengan bahan sumber protein hewani. Sumber protein hewani yang bisa dijadikan pakan adalah keong mas, limbah pengolahan ikan air tawar atau laut, udang-udangan, ternak hewan dan cacing tanah.
Menurut Affandi, R,Et al, 1998/1999, pakan buatan dapat diformulasikan dalam bentuk pasta.
Formulasi bahan pakan buatan adalah sebagai berikut :
- Kandungan protein  pakan buatan       = 45 %
- Rasio energi : Protein                           = 8
- Vitamin                                                 = 2 %
- Mineral                                                 = 2 %
Jumlah pakan harian yang diberikan 6-8 % dari total biomass.
sebagai contoh, bila dalam satu kolam ada 100 ekor sidatv dengan rata-rata berat 100gr, berarti total biomass adalah 10 kg. total pakan yang diberikan tiap hari adalah 6% x 10 kg. pakan yang 0,6kg itu dibagi berapa kali frekuensi pemberian pakan dalam satu hari. pemberian pakan dapat dilakukan dua kali, yaitu pagi hari jam 06 : 00WIB dan malam hari jam 21 : 00 WIb. saat diberi pakan di malam hari, ikan sidat muncul ke permukaan air, karena sidat bersifat nokturnal, aktif di malam hari.

D. Pengelolaan Kualitas Air.    
Petani ikan sidat kebanyakan menggunakan kolam terpal dengan kontruksi bambu ukuran 4x5 m2. untuk menambahkan pasokan oksigen pompa air kecil yang biasa dipakai di akuarium. untuk kolam 4x5 , pompa aquarium yang dipasang ada 2 buah.
Untuk memberi kadar garam/ salinitas digunakan garam krosok 0,5kg tiap bulan sekali. selain bisa mempercepat pertumbuhan ikan, garam krosok berfungsi sebagai pengendali parasit jamur yang bisa menyerang , misalnya white spot.
Kualitas air ( pH, kadar amonia dan lain-lain)  menjadi lebih stabil dengan menggunakan TON ( Tambak Organik Nusantara)  NASA seminggu sekali. caranya dengan menebar langsung ke air budi daya sebanyak 1 sendok makan. menurut penuturan Sutejo, dengan memakai TON NASA, nafsu makan ikan jadi meningkat, pertumbuhan ikan menjadi lebih cepat, air budi daya tidak berbau amis.
Air budi daya diganti secara total setiap 2 bulan sekali. caranya, dengan mengeluarkan seluruh airv dengan pompa air akuarium, tanpa mengangkat sidat, air bening dari sumber air kemudian di masukan sampai ketinggian 50 cm.

E. Pencegahan Penyakit
Untuk mengantisipasi munculnya penyakit, pergantian air secara total dan pemberian garam krosok 0,5 kg tiap kolam ukuran 4x5 m2 sudah cukup baik. dengan pemakaian TON ( Tambak Organik NASA) seminggu sekalin maka kualitas  air , seperti pH , maupun kadar amonia, cenderung berada pada kisaran yang baik sehingga ikan tidak stress. bahkan ikan bisa tumbuh lebih cepat.


CARA BUDIDAYA IKAN NILA

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan kombinasi air tawar yang sangat prospektif untuk dibudidayakan karena telah menjadi kombinasi penting dunia. Daging nila sering diolah menjadi fillet untuk komoditas ekspor.

Ikan nila disukai konsumen secara luas karena dagingnya sangat gurih dan durinya mudah dilepaskan dari daging. selain itu, nila mudah dipelihara, tahan penyakit, masa pemulihanya pendek, menguntungkan untuk dibudi-dayakan, dengan pangsa pasar yang terbuka luas.

Ikan nila berasal dari Afrika, yaitu dari perairan sungai Nil bagian hulu. ikan nila sekerabat dengan ikan mujair yang berasal Mosambique, Afrika. Bedanya, ikan nila bertumbuh lebih cepat.Dalam umur 5 bulan bisa mencapai berat tiga kali bera ikan mujair. ikan nila bisa hidupdi perairan air tawar maupun air payau, yaitu di tambak-tambak yang sedianya digunakan untuk budidaya ikan Bandeng.

Selain mampu beradaptasi dengan berbagai jenis air, ikan nila juga juga bisa beradaptasi dan hidup di daerah tropis maupun subtropis. Bisa dikatakan bahwa kini ikan nila telah menyebar ke hampir semua negara tropis dan subtropis.

Dari ilmu taksonomi di ketahui ikan nila masih satu marga (genus) dengan ikan mujair. Klasifikasi ikan nila selengkapnya adalah sebagai berikut:
fillum : Chordata
Subfillum (anak Fillum) : Vertebrata
Klas (kelas) : Pisces
Subklas (Anak kelas) : Actinopterygii
Infra Class : Teleostei
Super Ordo : Ostariophysi
Ordo (bangsa) : Percomorphi
Subordo (anak Bangsa) : Percoidea
Famili (Suku) : Cichlidae
Genus (marga) : Oreochromis
Spesies (jenis) : Oreochromis Niloticus.

Ikan nila mempunyai bentuk tubuh ysng memanjang dan ramping denan sisik yang berukuran besar. Pebandingan panjang terhadap tinggi tubuh adalah 3:1

Pada sirip punggung, sirip perut, dan sirip ekor terdapat jari-jari lemah tetapi keras dan tajam seperti duri. Sirip dada dan sirip ekor tidak memilki jari-jari seperti duri.

Matanya berukuran besar dan menojol dengan tepi berwarna putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus dibagian tubuh, kemdian berlanjud lagi tetapi letaknya lebih kebawah dibanding garis memanjuang di atas sirip dada.jumplah sisik pada gurat sisi ada 34 buah.Terdapat pola garis vertiksl, 6 buah pada sirip ekor, 8 buah pada sirip punggung, dan 8 buah pada tubuh.

Ikan nila bisa hidup di air payau maupun air tawar. mampu bertahan darikekurangan oksigen.ikan nila aktif di siang hari, termasuk dalam mencari makan. ikan nila mempunyaikemampuan adaptasi yang baik dan tahan penyakit, baik pada air payau maupun air tawar.

ikan nila termasuk ikan pemakan segala (omnivora) dengan kecenderungan herbivora. di afrika,ikan nila disebut mbuna atau ikan pemakan lumut yang menempel di batu. ikan nila dapat beradaptasi sehingga bisa makan sgala bahan makanan yang berada di depanya. Larva nila makan hewan renik, udang-udang kecil. ikan yang besar makan tumbuh-tumbuhan seperti ganggang, lumut, dan sebagainya.

Ikan nila memijah sepanjang tahun. Bila induknya baik, dapat memijah 1,5 bulan sekali, dan dapat dilakukan secara massal dalam satu kolam. Saat memijah, ikan nila memerlukan dasar badan air yang lunak karena ikan nila suka membuat sarang didasar kolam.

Ikan nila betina menyimpan larvanya didalam mulut (mouth broder). di alam, indukan nila menjaga larva ikan hingga hidup mandiri.

Ikan nila pertama kali masuk Indonesia lewat jawa barat pada tahun 1969. Ikan ini diintroduksi dari Taiwan (Anonim, 2008, cit Hardjamulia dan Djajadireja, 1977). pada tahun 1975 didatangkan ikan nila hibrid (hasil silang T. nilotica dan T. mossambica) dari taiwan. nila merah muncul pada tahun 1981, diintroduksi dari Philipina.Pada tahun 1988-1989 didatangkan parent stock nila chitralada dari thailand namun tidak berkembang (Anonim, Dinas perikanan jawa barat. 2008).

Jenis-jenis ikan nila yang berkembang saat ini antara lain:

a. Ikan Nila GIFT
Ikan GIFT (Genetic Improvenment Farm Tilapia) merupakan varietas baru dari jenis ikan nila yang dikembangkan oleh ICLARAM di philipina. Ikan nila GIFT tersebut diintroduksi dari philipina pada tahun      1995-1997 (Anonim, 2008)

b. Ikan Nila TA
Ikan Nila TA belum banyak dikenal masyarakat. Nila TA mirip dengan nila GIFT. bedaya, garis-garis vertikal pada tubuhdan ujung sirip punggung lebih sedikit di banding nila GIFT. Selain itu pada Nila TA terdapat garis tepi berwarna merah pada sirip punggung dan ekor nila TA jantan.

c. Ikan Nila GESIT
Merupaan jenis nila hasil pemuliha yang dilakukan di bLi besar penggembangan budidaya Air tawar (BBPBAT-DKP), Sukabumi bekerja sama dengan Fakultas perikanan dan kelautan IPB. 

Ikan nila gesit (Genetically Supermale Indonesia Tilapia) adalah nila yang secara genetis diarahkan menjadi jantan super. Perbaikan genetis, yaitu menciptakan kromosom sex YY yang di buat dengan metode rekayasa kromosom sex ikan nila jantan normal (kromosom XY) dan betina (kromosom XX). Pemulihan memerlukan waktu sekitar 6 tahun di kolam percobaan IPB, Dramaga (2001-2004) dan di BBPBAT, Sukabumi (2002-2006).
Ikan nila GESIT adalah hasil pemulihan yang mendapatkan ikannila monosex jantan. Dasar pemikiranya adalah ikan nila yang berkelamin jantan tumbuh lebih cepat. Pertumbuhan ikan nila GESIT monosex jantan lebih cepat sekita 50% dibandingkan dengan yang berkelamin betina. Dengan penyediaan benih monosex jantan maka diharapkan terjadi peningkatan produktifitas ikan secara nyata (Amri, Kh., dan Khairuman,2008)

d. Ikan Nila NIRWANA
Ikan Nila Nirwana (nila ras Wanayasa) dirilis 15 Desember 2006 oleh dirjen Budi Daya melalui Surat Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan. Pemulihan selektif ikan nila dimulai pada tahun 2002 yang dilaksanakan di balai pengembangan Benih ikan (BPBI), Provinsi Jawa Barat yang berlokasikan di Wanayasa dengan mengoleksikan 18 famili ikan nila. GOFT generasi ke-6 dari 24 famili ikan nila GET dari philipina. Sumber genetik kegiatan seleksi adalah GIFT (Genetic Improvement For Farmed Tilapia) dan GET (Genetically Enhanched Tilapia). Dalam kurun waktu pengerjaan selama 3 tahun, dai tahun 2003-2006, BPNI Wanayasa telah menyeleksi 500 ekor benih yang dihasilkan oleh setiap pasangan famili mendapatkan 10 pasang induk penjenis (Great Grand Parent Stock - GGPS), yang selanjutnya diberi nama nila nirwana. Dari GGPS diperoleh induk dasar (Grand Parent Stock-GPS) yang akan menghasikan induk sebar atau parent stock (PS). PS merupakan induk akhir yang menghasilkan benih  sebar untuk kebutuhan par pembudidaya. Pemelihasraan sejak Larva hingga berbobot di atas 650 gram/ekor dapat di capai dalam waktu 6 bulan. Hal ini jauh lebih cepat dari ikan nila jenis lain. Bentuk tubuh ikan nila nirwana relatef lebih lebar dengan panjang kepala yang lebih pendek. Nila ini memiliki struktur daging yang lebih tebal dibandingkan jenis nila lainya.

e. Nila BEST
Nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia) merupakan nila hasil perbaikan genetik yang dilakukan Balai       Riset Budi Daya Air Tawar Bogor. Nila BEST dinyatakan lulus uji pada tahun 2008. Ikan nila jenis ini           mempunyai kemampuan tumbuh yang cepat. Ikan nila BEST juga mempunyai kemampuan adaptasi yang       sangat baik terhadap salinitas (Anonim,Dinas Peikanan Jawa Barat, 2008, Odang, Adi, s., penebarar           Swadaya, 2009).

Ikan nila dapat dengan mudah beradaptasi dengan salinitas, suhu, maupun oksigen. Sifat tersebut mengidentitaskan bahwa ikan nila mudah dibudi-dayakan. Budi daya ikan nila akan endapatkan keuntungan optimal apabila dilakuka pengelolaan yang tepat budi daya, benih, kuwalitas air, pakan, dan pengendalian penyakit.

Berikut ini di uraikan kunci sukses pembesaran ikan nila:

a. Tempat budi daya
Budi daya pembesaran ikan nila secara intensif bisa dilakukan di kolam air tenang, karamba, maupun KJA. Tempat budi daya pada kolam air tenang mempunyai prinsip bahwa air masuk dan keluar bisa diatur untuk mendukung pertumbuhan ikan. Kolam air tenang bisa dibuat langsung pada tanah atau pun dengan bangunan semen. Untuk menjaga ketersediaan oksigen maka bisa dilakukan aerasi menggunakan kincir, blower, pompa, atau denan memasukan air ke dalam kolam. Ikan nila bisa dipelihara di karamba yang diletakan di sungai atau pun di saluran irigasi. Lokasi yang di gunakan untuk meletakan karamba harus diplihyang airnya relafif jernih dan tidak tercemar limbah kimia. Budi daya yang dilakukan dengan karamba jaring apung harus memperhatikan kapasitas/daya dukung perairan. Bila suatu perairan, Waduk atau Danau, total area untuk budi daya sudah melebihi 1 % maka tempat tersebut sudah tidak memadai untuk budidaya.

b. Benih
Benih merupakan komponen yang sangat penting untuk diperhatikan dalam suatu budidaya, termasukbudidaya ikan nila. Benih ikan nila jenis baru yang mempunyai kualitas yang baik adalah :

  1. Nila GESIT (Genetically Supermale Indonesia Tolapia), merupakan jenis nila monosex jantan dengan kualitas super (super monosex). Ikan ini mempunyai kromosom YY.
  2. Nila nirwana ras Wanayasa. Jenis nila nirwana mempunyai pertumbuhan cepat, yaitu sejak larva menjadi ikan berbobot 650 gr hanya membutuhkan waktu 6 bulan.
  3. Nila BEST (Bogor Enhanched Strain Tilapia). Ikan nila BEST telah lulus uji pada tahun 2008, dapat dengan cepat tumbuh dan sangat adaptif terhadap salinitas.
Benih nila yang ditebar untuk pembesaran secara intensif biasanya berbobot 15 gr/ekor (Panjang 8-10 cn, umur dimulai dari larva 3 bulan). Padat tebar untuk masing-masing jenis budidaya secara intensif adalah:
Kolam Air Tenang (KAT) : 20 ekor/m3.
Karamba : 50 ekor /m3.
Karamba Jaring Apung (KJA) : 50 ekor/m3.
Benih yang baik mempunyai kreteria tubuh normal, pergerakan aktif dan lincah terhadap arus atau terhadap rangsangan dari luar (nilai 90-100%), ukuran seragam.

c. Pengelolaan Pakan
Pakan diberikan dalam jumlah yang tepat, tidak berlebih maupun kurang. Pakan berlebih akan menurunkan kualitas air karena banyak sisa pakan, sementara kekurangan pakan mengakibatkan pertumbuhan menjadi lambat.
Pakan yang diberikan untuk ikan nila bisa dibuat sendiri atau dengan membeli produk jadi. Kandungan protein pakan ikan nila konsumsi minimal 25%. 

d. Pengelolaan kualitas air
Pemeliharaan ikan nila di kolam air tenang dilakukan dengan penggantian air, penyifonan kotoran di dasar kolam, penyebaran dolomite, zeolite, kapur pertanian.

e. Pencegahan Penyakit
Untuk menekan patogen penyebab penyakit pada budidaya di kolam air tenang bisa menggunakan probiotik tangguh.


Budidaya Ikan Gurami Angsa

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ikan gurami (Osphronemus gourami) mempunyai daging yang lezat. Kelezatan itulah yang menjadikan ikan gurami hadir direstoran kelas atas, resepsi pernikahan, maupun pada aneka event penting yang diadakan oleh lembaga dan organisasi. Selain gurih, daging gurami yang tebal itu begitu mudah untuk dipisahkan dari durinya.
Ikan gurami dikenal dengan berbagai nama. Di jawa, gurame, gurameh, Sumatra, kalau, kala, dan kalui. Kalimantan, kalui. Dalam bahasa Inggris disebut Giant Gouramy. Ikan gurami merupakan ikan asli indonesia. Habitatnya tersebar luas di kawasan Asia Tenggara, yaitu Thailand, Malaysia, Sri Lanka, Filipina. Kini ikan gurami juga telah berkembang di kawasan Australia dan Jepang.
Di Indonesia penyebaran gurami meliputi Sumatra, Jawa, Madura dan Sulawesi. Di Sumatra, gurami berkembang dengan baik di sekitar Payakumbuh. Di Jawa, gurami berkembang di Bogor, Ciamis, Tasik malaya, Purwokarto, Magelang. Di Sulawesi, gurami berkembang di sekitar Manado.
Untuk memudahkan identifikasi dan melihat kekerabatangurami dengan ikan yang lain telah dilakukan klasifikasi berdasarkan ilmu taksonomi. Klasifikasi ikan gurami secara lengkap adalah sebagai berikut:
Fillum                                : Chordata
Subfillum (Anak Fillum )     : Vertebrata
Class ( Kelas )                   : Pisces
Subklas ( Anak Kelas )      : Actinopterygii
Infra Class                         : Teleostei
Super Ordo                       : Ostariophysi
Ordo ( Bangsa )                 : Labyrinthici
Sub Ordo                          : Anabantoidae
Famili ( Suku )                   : Anabantidae
Subfamili ( sub suku )         : Osphroneminae
Genus ( Marga )                 : Osphronemus
Species ( Jenis )                 : Osphronemus gouramy.

Bentuk tubuh gurami agak panjang, tinggi, pipih ke samping ( compressed ). Secara umu7m bentuk tubuh hampir oval dengan punggung tinggi. Bermulut kecil, miring, dan dapat disembulkan. Rahang atas dan bawah tidak rata. Ikan yang sudah tua memiliki dagu menonjol, pada rahang terdapatgigi-gigi kecil berbentuk kerucut. Gigi sebelah luar lebih besar dibanding gigi sebelah dalam. Sisik relatif besar. Bagian kepala sisik tepian yang agak kasar. Pada sirip perut, pada bagian jari-jari pertama terdapat benang yang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.
Gurami memiliki alat pernafasan tambahan yang terletak di tepi atas insang pertama yang disebut Labyrinth. Labirin adalah selaput yang berkelok-kelok dan menonjol, yang mempunyai pembuluh kapiler yang memungkinkan ikan gurami mengambil oksigen dari udara.
Di alam, ikan gurami hidup di sungai, danau, rawa, waduk yang airnya tenang dan dalam. ikan gurami menyukai menyukai perairan yang jernih, tenang, dan mengandung lumpur. Ikan gurami bisa hidup mulai dari dataran yang rendah hingga daerah dengan ketinggian 800 m dpl. Gurami bisa hidup diair payau yang kadar garamnya rendah.
Gurami sering menyembulkan moncongnya ke permukaan air. Kebiasaan ini disebabkan oleh karena gurami memilikialat pernafasan selain insang yaitu labyrinth. Dengan menyembulkan ke permukaan air, gurami dapat mengambil oksigen di udara. Kolam budi daya gurami harus bersih dari tumbuhan yang mengambang dipermukaan. Apabila kolam budi daya dipenuhi tumbuhan yang mengapung maka ikan gurami akan mati.
Setelah mencapai panjang 8 cm, gurami makan dedaunan lembek seperti daun talas, sente, daun pepaya, kobis, daun singkong.
Dialam ikan gurami memijah di musim kemarau. Sebelum memijah, induk jantan akan membuat sarang terlebih dahulu. Jenis kelamin ikan gurami bisa dibedakan dengan melihat ciri fisik. Induk jantan mempunyai dahi menonjol (nongnong), bila dipegang akan berkebar (berontak) dan ekornya dilengkungkan ke bawah. Induk betina mempunyai dahi dempak (cenderung masuk kedalam), bila dipegang tidak berkebar, bila akan memijah cenderung menyendiri dan sesekali membantu jantan membuat sarang.
Kematangan gonad ikan gurami dicapai pada umur 2-3 tahun. Saat akan memijah, induk jantan membuat sarang dari rumput kering dengan diameter 30-38 cm, diletakkan di tempat yang tersembunyi diantara rumput-rumputan atau tumbuhan yang berdaun lebar.
Pada saat memijah, induk betina akan meletakkan telur-telurnya di sarang dan langsung di buahi oleh induk jantan. Telur dijaga oleh induk jantan dari serangan hewanpredator/pemangsa. Sambil menjaga telur, induk jantan akan mengibas-ngibaskan sirip dadanya kearah sarang yang berisi telur. Bila telur telah menetas maka gantian induk betina yang akan menjaga larva ikan.

Pada budi daya pembenihan, pemijahan bisa dilakukan sepanjang waktu. namun demikian ikan gurami sangat baik bila memijah dimusim kemarau. Bila pemijahan dilakukan di kolam terbuka, pemijahan harus dilakukan di musim kemarau. Bila pemijahan dilakukan dimusin penghujan maka telur akan rusak akibat perubahan suhu yang sangat cepat.
Petani yang menangani pembenihan sudah melakukan specifikasi usaha dengan pemilahan yang jelas, yaitu :

  1.  Menanganipemeliharaan induk hingga menghasilkan telur.
  2.  Memelihara telur hingga menetas menjadi larva (0,75-1cm).
  3.  Pendederan 1, memelihara larva hingga menjadi 1-2cm (biji oyong).
  4.  Pendederan 2, memelihara benih ukuran biji oyong hingga menjadi benih ukuran 2-4cm (ukuran kuku-jempol).
  5.  Pendederan 3, memelihara gurami ukuran kuku-jempol menjadi benih ukuran 4-6cm (ukuran silet).
  6.  Pendederan 4, memelihara ukuran silet menjadi benih ukuran 6-8cm (ukuran korek).
  7.  Pendederan 5, Memelihara ukuran korek menjadi benih ukuran 8-11cm (ukuran rokok kretek).

Untuk seterusnya benih ukuran rokok sudah siap dibesarkan.

Ikan gurami dibedakan menjadi dua golongan umum, yaitu :
  1. Ikan gurami angsa (bertubuh besar), bobot tubuh bisa mencapai 8 kg/ekor danpanjangnya mencapai 65cm, bersisik agak besar. Gurami jenis ini adalah gurami angsa (soang), dan gurami porwokerto.
  2. Ikan gurami jepun (bertubuh sedang) . Bobot tubuh maksimum mencapai 3,5 kg/ekor. Panjang tubuh relatif pendek, hanya mencapai 45cm. Bersisik lebih kecil. Golongan gurami jenis ini  adalah gurami jepun, gurami blausfir (blue saphire), gurami bastar, gurami paris, gurami porselen.

Berikut ini beberapa jenis ikan gurami yang sering di budi-dayakan :

  1. Gurami angsa. Ukuran tubuh lebih besar dan panjang. bila dipelihara dengan baik maka bobotnya bisa mencapai 8 kg/ekor dan panjang 65 cm. tubuhnya berwarna putih abu-abu dan bersisik besar. Pertumbuhannya lebih pesat. Telur yang dihasilkan betina relatif lebih banyak.
  2. Gurami porwokerto. Ukuran tubuh dan bobotnya hampir sama dengan gurami angsa. Gurami ini pertumbuhannya lebih cepat dibanding gurami jenis lain. warna tubuh hitam keabu-abuan.
  3. Gurami jepun, Japonica gouramy. Panjang tubuhnya hanya bisa mencapai 45 cm (relatif pendek) dengan bobot 3,5 kg/ekor. Sisik lebih kecil. warna tubuh putih keabu-abuan dan kecerahan. 
  4. Gurami blausafir (blue saphire). Ikan yang telah dewasa (induk) beratnya mencapai 4 kg/ekor dengan panjang 35 cm. Warna tubuh lebih cerah. Jenis ini mampu menghasilkan telur 5000 butir/induk.
  5. Gurami bastar. Jenis bastar ini disukai oleh petani ikan sebagai gurami pedaging. Warna sisik agak kehitaman, dengan sisik besar. Warna kepala putih polos, Keunggulan sebagai gurami pedaging menjadikan menjadi pilihan dalam budi daya pembesaran.
  6. Gurami paris. Ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding jenis lain, berwarna cerah dengan sisik agak halus. Indukan gurami paris mampu menghasilkan  5.000 - 7.000 butir telur sekali memijah.
  7. Gurami porselen. Tubuh gurami porselen berukuran sedang, dengan berat induk 1,5 -2 kg. Warna tubuh umumnya keperakan dan merah muda ( cerah ). Kepala ikan relatif kecil. Sekali memijah, jumlah telurnya mencapai 10.000 butir. Jenis ini sangat disukai petani pembenih  karena keunggulan dalam memproduksi telur. pantas bila harganya mahal, Jenis ini serng disebut Top of the Pop Guramy.
Ikan gurami dapat dipelihara di dataran rendah hingga daerah dengan ketinggian sampai 800 m dpl. Idealnya gurami dipelihara di daerah dengan ketinggian 50-400 m dpl. Apabila dipelihara di kolam, kedalaman idealnya adalah 70-100cm dengan debit air mengalir 3 liter/detik.
Budi daya gurami akan mendatangkan keuntungan yang optimal bila dilakukan pengelolaan terhadap wadah budi daya, benih, kualitasair, dan penyakit.
Penjelasan masing-masing komponen adalah sebagai berikut :
A.  Benih unggul. Untuk budi daya pembesaran diperlukan bibit ikan yang pertumbuhannya cepat. Jenis ikan gurami yang tepat untuk pembesaran adalah jenis gurami angsa (soang), jenis gurami porwokerto, dan jenis gurami bastar. jenis gurami bastar cocok untuk pembesaran ikan dengan tujuan konsumsi karena pertumbuhannya yang cepat. Ikan gurami jenis bastar sering disebut ikan gurami pedaging. Benih gurami yang biasa digunakan untuk pembesaran tahap pertama adalahyang seukuran bungkus rokok, panjang 8-11cm, dengan bobot 50 gr. dalam waktu 4 bulan ikan gurami sudah menjadi 250gr. Benih ikan seberat 50 gr ditebar di tempat budi daya dengan populasi :
Kolam Air Tenang ( KAT )           : 25 ekor/m3
Kolam Terpal                                : 25 ekor/m3
Karamba                                       : 25 ekor/m3
Karamba Jaring Apung                   : 50 ekor/m3
Pembesaran tahap II, yaitu ikan dengan bobot 250 gr, dibesarkan  lagi selama 3 bulan menjadi 750 - 850gr. Benih ikan seberat 250gr ditebar di tempat budi daya dengan populasi :
Kolam Air Tenang ( KAT )           : 10 ekor/m3
Kolam Terpal                                : 10 ekor/m3
Karamba                                       : 10 ekor/m3
Karamba Jaring Apung                  : 20 ekor/m3  
B.  Budi daya dengan target waktu dan ukuran ikan. Budi daya pembesaran gurami harus disiasati dengan cerdik. Untuk mempercepat siklus budi daya gurami, petani ikan tidak perlu menunggu ikan mencapai ukuran konsumsi, dengan bobot 500-1000gr. Saat budi daya telah berlangsung 3-4 bulan, dan bobot ikan telah bertambah, ikan gurami sudah bisa dijual kepada petani lain atau pedagang. Dengan demikian akan terjadi aliran dana dengan cepat. Petani ikan gurami tidak terlalu lama menunggu untuk mendapatkan keuntungan.
C.  Pakan yang berkualitas baik, memiliki kandungan protein minimal 30%. Pemberian pakan harus dilakukan dalam jumlah yang tepat. beri pakan tambahan berupa daun pepaya, daun keladi, daun senthe, kangkung dan daun ketela pohon.
D.  Pengelolaan kualitas air kolam , karamba, KJA, dengan sebaik mungkin.
E.  Menggunakan probiotik dengan maksud untuk menghindari serangan penyakit dan menjaga kualitas air.
F.  Membuat kontruksi kolam yang memudahkan membuang sisa pakan dan kotoran ikan. Pada Kolam Air Tenang sisa pakan dan kotoran dikeluarkan dengan sistem pipa goyang. Pada kolam terpal pembuangan kotoran dengan sistem siphon.


Budidaya Ikan Bawal Agar Keuntungan Optimal

Ikan bawal, Colossama macropopum, Berasal dari Brasil. Di negeri asalnya, bawal disebut Tambaqui. Sebutan lainnya adalah Gamitama (Peru), Cachama (Venezuela), Red Bally Pacu yang berarti pada bagian perut terdapat warna merah (USA dan Inggris).

budidaya ikan bawal
Ikan Bawal dapat tumbuh dengan cepat. Dagingnya pun enak. Tak mengherankan bila ikan bawal akan menjadi pilihan budidaya ikan air tawar dimasa yang akan datang.

Ikan bawal masuk ke Indonesia melalui importir ikan hias dari Singapura dan Brasil. Ikan bawal air tawar memang bisa dijadikan ikan hias karena warnanya yang putih keperakan dan bagian bawah perutnya berwarna merah.

Fillum
Chordata
Sub fillum (Anak fillum)
Vertebrata
Klas
Pisces
Sub klas (Anak kelas)
Neopterigii
Super Ordo
Cypriniformes
Ordo
Cyprinoidea
Famili (Suku)
Characidae
Sub famili
Serrasalminae
Genus (Marga)
Colossoma
Species (Jenis)
Colossoma Macropomum

Bentuk tubuh ikan bawal adalah pipih. Dilihat dari samping, tubuhnya kelihatan agak bulat. Dengan bentuk tubuh seperti itu, ikan bawal termasuk kategori perenang lambat seperti gurami. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian bawah berwarna putih. Pda awal dewasa, bagian tepi sirip perut, sirip anus, dan bagian bawah sirip ekor berwarna merah. Warna merah ini merupakan ciri khusus ikan bawal sehingga ikan ini disebut Red Bally Pacu. Sisi ikan bawal berbentuk stenoid, setengah bagian sisik belakang menutupi sisik bagian depan.

Kepala ikan bawal tergolong kecil bila dibandingkan dengan badannya. Mulut terletak dibagian ujung kepala. Posisinya agak sedikit keatas. Matanya kecil dengan lingkaran berbentuk cincin. Rahang pendek dan kuat dengan gigi seri yang tajam. Ikan bawal mempunyai lima macam sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anus, dan sirip ekor. Sirip punggung dengan satu jari-jari agak keras tetapi tidak tajam, serta jari-jari lainnya lemah. (Arie U., 2000).

Habitat asli ikan bawal adalah sungai besar di Amerika selatan, yaitu di sungai amazon (Brasil) dan Sungai Oronico (Venezuela). Ikan bawal suka bergerombol diperairan yang deras. Meski begitu ditemukan pula diperairan yang tenang, terutama saat masih benih.

Ikan bawal tergolong ikan carnifora, pemakan daging, dengan gigi yang tajam. Pada fase larva, ikan bawal menyukai zooplankton seperti artemia sp, Brachionus sp, maupun Moina sp. Setelah agak besar ikan bawal makan cacing, detritus, serangga, udang-udangan, moluska dan tumbuh-tumbuhan air berdaun lunak. Ikan bawal lebih suka makan di bagian tengah perairan, bukan didasar perairan (Botom feeder) atau di permukaan (Surface Feeder).

Pada budidaya pembesaran ikan bawal bisa diberi pelet, ikan rucah, dan daging keong mas.

Di alam, ikan bawal memijah pada awal dan selama musim penghujan. Induk jantan berbadan langsing dengan warna merah lebih menyala, bergerak lebih lincah, dan bila diurut bagian perutnya akan keluar cairan berwarna putih. Tubuh induk betina lebih gemuk dengan perut gendut dan gerakannya lamban. Pada usia empat tahun ikan bawal betina sudah dapat menjadi indukan dengan berat tubuh 4 kg. Ikan jantan berumur tiga tahun, dengan berat 3 kg, sudah dapat digunakan sebagai pejantan. Induk betina seberat 4 kg dapat menghasilkan 500.000 telur.

Di alam, ikan yang sudah matang gonad akan mencari tempat yang cocok untuk memijah. Daerah yang disukai adalah hulu sungai. Saat musim hujan tiba, tempat yang tadinya kering akan tergenang air. aroma tanah kering yang tergenang air hujan mampu merangsang pemijahan ikan bawal. Saat pemijahan berlangsung, induk jantan bekerjaan dengan induk betina. Sesekali induk betina menempelkan perut di induk jantan. Pada saatnya induk jantan dan betina lebih gesit bergerak hingga betina mengeluarkan telur sementara yang jantan mengeluarkan spermanya. Dengan cara itu telur yang melayang-layang akan terbuahi.

Pada budidaya, pemijahan dapat dilakukan dengan metode Induced Spawning, yaitu dengan menyuntikkan hormon. Hormon yang dipakai untuk merangsang terjadinya telur adalah LHRH-a HCG (Human Choironic Gonadotropin), Hormon Ovaprim, dan PG (Pituary Gland) (Arie U., 2000).

TABEL STANDAR KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN BAWAL

PARAMETER KUALITAS AIR
STANDAR KUALITAS AIR
Suhu
25 - 30 ⁰C
pH
7 - 8
Oksigen Terlarut (DO)
>4 mg/lt
NH3
<0,02 ppm
Transparasi (Warna air Oleh Plankton)
20 – 40 cm
Karbondioksida (CO2)
<25 mg/l
Nitrit (NO2)
<0.05
Alkalinitas
50-500 mg/l
Kesadahan Total
>50 mg/l

Budidaya ikan bawal agar keuntungan optimal apabila dilakukan pengelolaan tempat budidaya, benih, kualitas air, pakan, dan pengendalian penyakit.

Berikut ini diuraikan kunci sukses pembesaran ikan bawal :
A. Tempat Budidaya. Budidaya ikan bawal lebih efektif jika dilakukan pada kolam air deras mengingat ikan bawal bisa hidup di sungai yang mengalir deras. Walaupun demikian bawal juga bisa dibudidayakan di kolam air tenang. Budidaya ikan di karamba dan jaring apung pun mampu mendatangkan keuntungan yang besar. Budidaya ikan bawal pada kolam air deras dapat dilakukan apabila di lokasi tersedia debit air yang lebih besar dari 20 liter/detik. Untuk mengukur debit air bisa dilakukan mengukur L (lebar) X T (tinggi) X P (panjang) saluran yang akan dijadikan sampel. Misalnya, lebar 30 cm, dan panjang saluran 10 m (diberi batas). dengan menggunakan stop watch, kita bisa mengukur kecepatan air di sepanjang saluran. Untuk itu kita perlu menggunakan bahan yang terapung. Bila hasilnya, misalkan 30 detik, maka debit airnya adalah 0,3 m X 0,3 m X 10 m/30 detik = 0,9 m3/30 detik = 900 lt/30 detik = 30 liter/detik. Ikan bawal bisa di pelihara di karamba yang diletakkan di sungai atau saluran irigasi. Lokasi yang digunakan untuk meletakkan karamba hendaknya di pilih yang airnya tidak tercemar limbah kimia.
B. Benih. Benih merupakan komponen yang sangat penting untuk diperhatikan dalam suatu budidaya, termasuk budidaya ikan bawal. Benih ikan bawal yang akan ditebar hendaknya di pilih yang berkualitas. Benih unggul diperoleh dari indukan unggul. Kriterian indukan unggul saat masih muda sudah berbadan besar dan sangat matang gonad (berumur 3 tahun), bobotnya minimal 3 kg.
menghitung benih ikan bawal 
Benih ikan bawal yang di tebar untuk pembesaran secara intensif adalah berukuran panjang 3,2 - 3,5 cm, berumur kurang lebih 45 hari. benih ikan bawal ukuran tersebut untuk bobot 400 - 500 gr membutuhkan waktu 5 - 6 bulan. Padat tebar menurut jenis wadah budidaya intensif adalah :
  • Kolam air deras (KAD) : 50 ekor/m3.
  • Karamba : 20 ekor/m3.
  • Karamba jaring apung (KJA) : 50 ekor/m3.

benih ikan bawal

Benih yang baik mempunyai ciri tubuh normal, pergerakan aktif dan lincah terhadap arus maupun rangsangan dari luar. Ukuran benih seragam.
C. Pengelolaan Pakan. Pemberian pakan harus dilakkan dengan jumlah yang tepat. Artinya, pakan yang diberikan tidak berlebih atau kurang. Pakan berlebih akan memperburuk kualiatas air karena sisa pakan, sementara kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Pakan ikan untuk budidaya ikan bawal bisa dibuat sendiri atau dengan membeli. Kandungan protein pakan yang diberikan untuk pembesaran minimal 25% dalam sehari jumlah pakan diberikan adalah 3 % dari berat total ikan aktual (biomass), yaitu berat rata-rata ikan X jumlah populasi dalam kolam. Pakan sejumlah itu dibagi menjadi tiga, yaitu untuk diberikan pagi, siang, dan malam. Misalnya berat rata-rata ikan 100 gram, populasi dalam kolam 10.000, berarti biomass dalam kolam 1.000 kg. Jumlah pakan perhari adalah 1,000 kg X 3 % = 30 kg. Dalam sehari pakan yang diberikan adalah 30 kg untuk tiga kali pemberian. Nafsu makan ikan dipengaruhi olehsuhu air. Pada pagi hari suhu air sekitar 22 ⁰C. Pada suhu ini nafsu makan ikan kurang baik. Oleh sebab itu jumalah pakan yang diberikan dikurangi untuk ditambahkan pada pemberian pada siang dan sore hari.
D. Pengelolaan Kualitas Air. Pada budidaya pada kolam air deras dan karamba,  kualitas iar yang digunakan untuk budidaya perlu diperhatikan. Apabila ada tanda bahwa kondisi berbahaya bagi ikan maka harus dilakukan tindakan penyelamatan.
E. Pencegahan Penyakit. Pada budidaya ikan bawal yang dilakukan di kolam air deras, karamba, atau karamba jaring apung, air terus berganti sehingga serangan penyakit cukup jarang terjadi. Namun demikian petani ikan harus tetap waspada akan kemungkinan serangan hama penyakit. Untuk mengantisipasi secara dini serangan penyakit, beberapa hal dapat dilakukan, yaitu :

  1. Untuk kolam air deras, sebelum kolam diisi air, lakukan pengeringan selama 14 hari dan sekaligus lakukan pengapuran.
  2. Jagalah sanitasi lingkungan.
  3. Lakukan penebaran benih dalam jumlah yang optimum, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.
  4. Pemberian pakan tidak boleh berlebih, tetapi juga jangan sampai kurang.
  5. Tangani ikan dengan baik agar tidak terjadi luka yang akan mungkin akan memicu terjadinya infeksi.
  6. Cegah masuknya binatang liar seperti burung, siput, ataupun kepiting yang mungkin dapat membawa penyakit.

produk produk perikanan nasa
Penambahan Pemberian Produk Nasa Akan Menambah Peningkatan Kesuksesan Budidaya Ikan Bawal.

PHONE : 081 225 9999 01
BBM : 2B11A003


Cara Pakai Viterna Serbuk

Viterna Serbuk sangat baik digunakan untuk penggemukan dan pembesaran : Ayam, Sapi, Kambing, Domba, Kelinci, Ikan, Udang dan ternak lainnya...

CARA PAKAI "VITERNA SERBUK"

TERNAK BESAR
TERNAK KECIL
Sapi, Kerbau, dll
Kambing, Domba, Kelinci, dll
5 - 10 gram / ekor / hari
Dicampukan air minum atau
Campuran pakan (Komboran)
Dosis 5 gram / ekor / hari
Dicampukan air minum atau
Campuran pakan (Komboran)
UNGGAS
PERIKANAN
Ayam, Itik, Puyuh, Burung, dll
Bandeng, Udang, Ikan Mas, Lele, Nila, Patin, Gurame dll
½ - 1 gr/liter air minum setiap hari
Pedaging : diberikan setiap hari
Petelur : diberikan 3 hari sekali
5 – 10 gram VITERNA + 1 liter
Air + 3 kg pakan ikan
Catatan : Kombinasi pemakaian VITERNA SERBUK akan lebih maksimal dipadukan dengan TANGGUH Probiotik atau POC NASA + HORMONIK

Hubungi Distributor VITERNA SERBUK Call / Sms : 081-225-9999-01
BBM 2B11A003.

brosur keterangan viterna serbuk
brosur viterna serbuk


Pengaruh Viterna Terhadap Pertumbuhan dan Kekebalan Tubuh Ternak

VITERNA adalah produk NASA yang merupakan suplemen pakan atau pakan pelengkap untuk ternak yang bersifat organik dan mudah tercerna dalam saluran pencernaan ternak.

viterna plus adalah vitamin ternak organik alami
VITERNA berasal dari bahan-bahan natural atau alami, sehingga tidak menimbulkan efek samping atau gangguan kesehatan bagi ternak yang mengkonsumsinya. VITERNA mengandung unsur-unsur nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh ternak, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Kandungan vitamin dan mineral pada VITERNA akan meningkatkan kerja dari sistem pencernaan pada tubuh ternak sehingga akan memacu pertumbuhan ternak secara maksimal. Vitamin dan mineral berperan dalam proses aktifitas metabolisme dalam sel dan menjaga keseimbangan asam-basa dalam tubuh, sehingga organ-organ tubuh dalam ternak akan bekerja aktif. Protein dalam VITERNA akan membantu dalam pembentukan dan perbaikan dan perbaikan sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh ini yang akan membentuk jaringan-jaringan tubuh, salah satunya adalah jaringan daging pada ternak. Hasil uji di lapangan telah menunjukkan bahwa penggunaan produk VITERNA telah meningkatkan kuantitas, kualitas dan kesehatan pada ternak (Data kesaksian dapat dilihat pada CD-CD kesaksian peternakan dan perikanan yang dikeluarkan oleh PT.Natural Nusantara, data berupa hasil uji laboratorium terlampir).

Secara umum manfaat dari penggunaan produk VITERNA pada ternak adalah :
  1. Memacu pertumbuhan pada ternak. Khusus ayam pedaging telah berhasil memperpendek waktu panen ayam dari waktu panen pemeliharaan standar dengan bobot yang sama, seperti rata-rata berat hidup ayam sebesar 2 kg dapat dicapai pada umur pemeliharaan 32-34 hari, yang pada umumnya biasanya dicapai pada umur 35-38 hari. Sehingga dapat menghemat pakan (Data lengkap dapat dilihat di CD kesaksian peternakan dan perikanan). FCR yang dihasilkan rata-rata mencapai 1,3 - 1,5. Pada usaha penggemukan sapi lokal seperti sapi bali dan peranakan ongole, rata-rata ADG (Average Daily Gain) atau pertambahan berat badan harian adalah 0,5-0,7 kg. Sedangkan sapi crossing simmental dan limousin rata-rata ADGnya mencapai 1,5-1,7 kg.
  2. Menekan angka kematian. Pengujian dan penerapan di berbagai peternakan yang telah menggunakan produk-produk Nasa, angka kematian rata-rata dibawah 5%.
  3. Meningkatkan kualiatas daging ternak. Hasil uji laboratorium dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM menunjukkan bahwa ayam yang telah menggunakan produk Nasa memiliki kandungan protein yang tinggi dan kandungan kolesterolnya rendah (Data terlampir).
  4. Mengurangi bau kotoran dari ternak.
  5. Meningkatkan produksi telur pada ayam atau unggas petelur (Data dapat dilihat di CD kesaksian peternakan ayam petelur atau unggas petelur).
  6. Meningkatkan kualitas susu pada usaha sapi perah, seperti : jumlah liter susu hariannya, nilai Solid Non Fat (SNF) sebesar 8,5-9 %, yang biasanya hanya sebesar 3,5% dan nilai Total Solid (TS) sebesar 12,1%. (Data dapat dilihat di CD kesaksian peternakan sapi perah).
Untuk mendapatkan VITERNA PLUS sangat mudah, hubungi 081-225-9999-01 (Call & SMS), Pin BBM 2B11A003


Budidaya Ikan Patin Pangasius Djambal

Ikan Patin (Pangasius djambal, P. hypophthalmus) merupakan salah satu jenis lele-lelean yang banyak dibudidayakan selain ikan lele. Produksi Asia Tenggara tahun 2001 mencapai 250.000 ton. Ikan patin yang banyak di budidayakan adalah species Pangasius hypophthalmus yang didatangkan dari Thailand.

budidaya ikan patin dengan produk viterna

Setelah dilakukan penelitian melalui kerjasama dengan Deplu Perancis (Institute de Recherche pour le Development, IRD) ditemukan species patin unggul asli indonesia, yaitu Pangasius djambal. Patin jenis ini hidup di sungai-sungai besar di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Pangasius djambal mempunyai nilai ekonomi yang tinggi karena ukuran maksimumnya lebih dari 1 meter. Daging patin ini berwarna putih sehingga lebih disukai daripada daging Pangasius hypophthalmus yang berwarna kuning. Daging ikan patin jenis Pangasius djambal disukai tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar Asia, Eropa, dan Amerika Utara (Komarudin, O., et.al., 2005).

Ikan patin hidup di sungai-sungai besar di Sumatera (Way Rarem, Musi, Batanghari, dan Indragiri), Jawa (Brantas dan Bengawan Solo), dan Kalimantan (Kayan, Berau, Mahakam, Barito, Kahayan dan Kapuas). Selain di sungai-sungai besar, patin juga terdapat di waduk-waduk. Menurut Gustiano (2003), di Indonesia terdapat 13 species patin yang terbagi dalam 3 genus. Bila ditambah dengan Pangasius hypophthalmus yang berasal dari Thailand, berarti ada 14 species patin, terbagi dalam 4 genus.

keaneka ragaman species keluarga ikan patin tersebar secara tidak merata di setiap sungai utama dengan tingkat keanekaragaman spesies yang besar di Sumatera. Sedangkan di Kalimantan terjadi tingkat endemitas yang tinggi. Spesies ikan disebut endemik apabila penyebaran alaminya terbatas pada satu sistem badan air. Contohnya, Pangasius reophillus di Sungai Kayan dan Sungai Berau (Gustiano, R., et al., 2005)

Berdasarkan ilmu taksonomi, ikan patin mempunyai ordo (bangsa), dan subordo (subbangsa) yang sma dengan ikan lele.

Klasifikasi ikan patin secara lengkap adalah sebagai berikut :
Fillum : Chordata
Subfillum (Anak Fillum) : Vertebrata
Klas : Pisces
Subklas (Anak Kelas) : Actinopterygii
Infra Class : Teleostei
Super Ordo (Bangsa) : Ostariophysi
Ordo : Siluriformes
Subordo (Anak Bangsa) : Siluroide
Famili (Suku) : Pangasidae
Genus (Marga) : Pangasius
Spesies (Jenis) : Pangasius djambal

Ikan patin mempunyai bentuk tubuh yang memanjang, tidak bersisik dan bertubuh licin. Warnatubuh putih keperakan dan berkilau. Pada waktu muda, warna putih keperakan sangat mencolok, tetapi setelah dewasa akan menjadi agak pudar.

Kepala patin relatif kecil, dengan mulut yang terletak di ujung kepala sebelah bawah. pada sisi mulutnya terdapat sungut berjumlah 2 pasang. Sungut berfungsi sebagai peraba saat berenang. patin memiliki patil pada sirip punggung dan sirip dada. Sirip duburnya panjang, dimulai dari belakang dubur hingga pangkal sirip ekor (Anonim : Balai Pengembangan Budi Daya Perikanan Air Tawar, 2005).

Ikan patin lebih banyak menetap di dasar perairan dibanding di permukaan. Patin memang ikan dasar (demersal). Hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang melebar sebagaimana mulut ikan-ikan demersal. Di sengai tempat asalnya, patin selalu bersembunyi di dalam liang di tepi sungai. Keluar dari liang persembunyian setelah hari gelap. Ikan patin bersifat nokturnal, aktif pada malam hari (Anonim : Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar, 2005).

Larva patin makan pakan alami yang berupa binatang renik seperti kutu air dari golongan Daphnia, Cladocera dan Copepoda. Selain itu juga makan berbagai jenis cacing, larva, jentik nyamuk, siput kecil, dan udang-udangan kecil. Ikan patin memijah sepanjang musim penghujan (November - Maret). Pada akhir musim penghujan benih ikan patin biasa bergerombol di permukaan air sungai, terutama saat menjelang subuh.

Pada budidaya pembenihan, ikan patin tidak bisa berproduksi secara spontan seperti pada kebanyakan species ikan. Produksi bibit ikan dimungkinkan melalui pemberian hormonik yang merangsang ovulasi dan kemudian diikuti dengan pembuahan buatan.

Di Indonesia terdapat banyak jenis ikan patin lokal asli Indonesia. Menurut Gustiano (2005), di Indonesia terdapat 13 spesies lokal yang terbagi dlam 5 genus (marga), dan 1 spesies introduksi dari Thailand. Dari sekian spesies lokal yang sangat prospektif untuk dikembangkan adalah Pangasius djambal.

a. Genus Pangasius Valenciennes, 1840, terdiri dari 10 species. Semua species lokal mempunyai 6 sirip perut dan moncong bagian depan yang kuat. Lubang pencium bagian belakang dekat dengan bagian depan dan di atas lubang pencium bagian depan dan lingkaran.

  1. Pangasius lithosoma, Robert, 1989. Bersifat endemis di sungai kapuas kalimantan barat, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  2. Pangasius humeralis, Robert, 1989. Bersifat endemis di sungai kapuas, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  3. Pangasius nieuwenhuisii, Popta, 1904. Disebut ikan lawang, bersifat endemis di sungai mahakam, Kalimantan Timur, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  4. Pangasius makronema, Bleeker, 1851. Tersebar di Sungai Kahayan. Dikenal dengan nama lokal ikan rios, riu, lacing. Cirinya, mempunyai gigi vomerin dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas 100,5 - 203,9 % dari panjang kepala.
  5. Pangasius polyuranodon, Bleeker, 1852. Tersebar luas di Sungai Barito, Brantas, Bengawan Solo, Batanghari, Indragiri, Way Rarem. Nama lokalnya adalah ikan juaro. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas kurang dari 100,5 panjang kepala. Panjang pedrosal (jarak dari ujung mulut sampai duri keras sirip punggung pertama) 25,1 - 31,2 % panjang standar.
  6. Pangasius mahakamensi, pouyaud, Gustiano, Teugels, 2002. Bersifat endemis di sungai mahakam, KalimantanTimur. cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas kurang dari 100,5 panjang kepala. Panjang pedrosal 30,1-32,7 % dari panjang setandar.
  7. Pangasius kunyit, Pouyoud, teugels, dan Legendre,1999. Tersebut luas disungai Musi, Batanghari, Indragiri, Barito, Kahayan, Kapuas. Nama lokasinya :patin kunyit. Cirinya, mempunyayi gigi vomerine dengan perpanjang sisi. jarak dari ujung mulut ke isthmus ( celah pada hulu kerongkongan ) yang pendek.
  8. Pangasius rheohilus, pouyoud dan teuglels, 2000. Bersifat endemis di sungaikayan dan sungai bereu, Kalimantan timur. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Lebar sirip Keras punggung antara 4,7-6,2 %panjang kepala.
  9. Pangasius nasutus, Bleeker, 1846. Tersebar luas di sungai Brantas, Bengawan solo Barito dan kahayan.Disebut sebagai ikan pedado. Cirinya, mempunyai gigi vomirine dengan perpanjang sisi, mempunyai 16-24 tapis insang pada lengkung insang pertama.
  10. Pangasius djambal.Bleeker, 1846. Tersebar luas disungai Way Rarem, Musi, Brantas, Bengawan solo, Barito, Kahayan. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi, mempunyai 27-39 lapis insang pada lengkung insang pertama.
b. Genus Pteropangasius Fowler, 1937, terdiri dari satu sepesies.mempunyai 6 sirip perut, moncong 
bagian depan kuat. Lubang pencium bagian belakang dekat dengan bagian depan dan di atas lubang pencium bagian depan dan lingkaran.
c. Pangasius micronemus Bleeker, 1947. Nama lokal: ikan wakal, rius caring . mempunyai mata relatif besar, sungut rahang atas pendek, sirip pungung dandada relatif kecil.
d. Genus Helicophagus wleeker, 1858. Ada dua sepesies: ikan dengan dua sirip perut dan moncong ramping. Lubang pencium bagian belakang terletak antara lubang pencium depan dan oriba ( ronga tempat bola mata ).

  1. Helicophagus typus, Bleeker, 1858. Tersebar luas di sungai Musi, Batanghari, Indragiri, Barito, kahayan, Kapuas.
  2. Helicophagus Waandersii, Bleeker, 1858. Tersebar luas di sungai Musi batanghari Indragiri.
e. Genus Pangasianodon Chevery, 1930, di intoduksi dari thailand untuk kepentingan akualakutur.
f. Pangasius hypopthalmus. merupakan sepesies ikan menyebar di sentra budi daya ikan patin. Cirinya, mempunyai 6-8 sirip perut, ukuran pedrosal yang panjang, sirip keras, punggung membulat.
(Gustiano R., et al, 2005)

TABEL STANDAR KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN PATIN
Parameter Kualitas Air
Standar Kualitas Air
Suhu
28 – 32 °C
pH
6 - 7
Oksigen Terlarut (DO)
4,5 – 6,5 mg/lt
NH3
< 0,05 ppm
Transparansi
40 – 60 cm
Karbondioksida (CO2)
9 – 20 ppm
Nitrit ( NO2 )
< 0,05 ppm
Alkalinitas
> 20 mg/lt
Kesadahan Total
> 20 mg/lt
(Anonim, Balai Pengembangan Budi Daya Air Tawar, 2005).
Agar budidaya ikan patin mendatangkan keuntungan yang optimal, maka harus dilakukan pengelolaan tempat budidaya, benih, kualitas air, pakan, dan pengendalian penyakit.

Berikut ini diuraikan kunci sukses pembesaran ikan patin:
a. Tempat Budidaya. Budidaya ikan patin lebih efektif jika dilakukan pada kolam air deras, walau juga bisa dibudidayakan di kolam air tenang. Budidaya pada ikan air deras bisa dilakukan apabila suatu lokasi mempunyai debit air >20 liter/detik. Ikan patin juga bisa dipelihara di karamba yang diletakkan di sungai atau saluran irigasi. Lokasi yang digunakan untuk meletakkan karamba harus di pilih yang tidak tercemar limbah kimia berbahaya.
b. Benih. Benih merupakan komponen yang sangat penting untuk diperhatikan dalam suatu budidaya, termasuk budidaya ikan patin. Benih ikan patin yang ditebar untuk pembesaran secara intensif adalah yang berukuran 20 gr. Benih patin ukuran tersebut untuk dapat dipanen dengan bobot 200 gr membutuhkan waktu 2,5 bulan. Bila dipanen dengan bobot 400 - 500 gr maka membutuhkan waktu 5 bulan.
Padat tebar benih ikan dengan berat 20 gram, menurut jenis wadah budidaya secara intensif adalah : 
  • Kolam Air Deras ( KAD ) : 50 ekor/meter kubik (m3).
  • Karamba : 25 ekor/m3.
  • Karamba Jaring Apung ( KJA ) : 50 ekor/m3.
Benih yang baik mempunyai kriteria tubuh normal, pergerakan aktif dan lincah melawan arus ataupun terhadap rangsangan dari luar, serta berukuran seragam.
c. Pengelolaan Pakan. Pemberian pakan harus dalam jumlah yang tepat, tidak berlebih maupun kurang. Pakan yang berlebih akan menurunkan kualitas air karena pembusukan sisa pakan, sedangkan kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan budidaya menjadi lambat. pakan ikan yang diberikan pada ikan patin bisa dibuat sendiri atau dengan membeli. Kandungan protein minimal adalah 25%. Dalam sehari jumlah pakan yang diberikan 3% dari berat total ikan aktual berdasarkan biomass. Jumlah tersebut dibagi menjadi tiga untuk diberikan pada pagi hari, siang hari dan malam hari. Misalnya berat rata-rata ikan 100 gr, populasi dalam kolam 10.000. Berarti biomass dalam kolam 1.000 kg. Jumlah pakan per hari adalah 1.000 kg  x 3% : 30 kg. Dalam sehari pakan yang diberikan adalah 30 kg, diberikan 3 kali, masing-masing sekitar 10 kg. Nafsu makan ikan dipengaruhi suhu air. Pada pagi nafsu makan ikan kurang baik. Oleh karena itu jumlah pakan yang diberikan di pagi hari dikurangi untuk diberikan pada siang hari dan sore hari.
d. Pengelolaan Kualitas Air. Budidaya pada kolam air deras dan karamba perlu selalu memperhatikan kualitas iar yang digunakan untuk budidaya. Apabila kondisi air berbahaya bagi kehidupan ikan maka harus dilakukan tindakan penyelamatan. Pemakaian KJA untuk budidaya perlu memperhatikan lokasi perairan. Bila sudah melebihi 1% dari total luas perairan, KJA sebaiknya tidak digunakan.
e. Pencegahan Penyakit. Budidaya ikan patin yang dilakukan di kolam air deras, karamba, atau karamba jaring apung, airnya terus berganti sehingga serangan penyakit relatif jarang terjadi. Untuk mengantisipasi agar hama penyakit tidak menyerang :

  1. Untuk kolam air deras, sebelum diisi air, awali dengan pengeringan kolam selama 14 hari. Dasar kolam diberi kapur.
  2. Jaga sanitasi lingkungan.
  3. Penebaran benih ikan dalam jumlah optimum, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.
  4. Pemberian pakan tidak berkurang.
  5. Hindari masuknya binatang lain seperti burung, siput, kepiting, yang bisa membawa penyakit.


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More