Postingan Terpopuler

Budidaya Ikan Patin Pangasius Djambal

Ikan Patin (Pangasius djambal, P. hypophthalmus) merupakan salah satu jenis lele-lelean yang banyak dibudidayakan selain ikan lele. Produksi Asia Tenggara tahun 2001 mencapai 250.000 ton. Ikan patin yang banyak di budidayakan adalah species Pangasius hypophthalmus yang didatangkan dari Thailand.

Setelah dilakukan penelitian melalui kerjasama dengan Deplu Perancis (Institute de Recherche pour le Development, IRD) ditemukan species patin unggul asli indonesia, yaitu Pangasius djambal. Patin jenis ini hidup di sungai-sungai besar di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Pangasius djambal mempunyai nilai ekonomi yang tinggi karena ukuran maksimumnya lebih dari 1 meter. Daging patin ini berwarna putih sehingga lebih disukai daripada daging Pangasius hypophthalmus yang berwarna kuning. Daging ikan patin jenis Pangasius djambal disukai tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar Asia, Eropa, dan Amerika Utara (Komarudin, O., et.al., 2005).

Ikan patin hidup di sungai-sungai besar di Sumatera (Way Rarem, Musi, Batanghari, dan Indragiri), Jawa (Brantas dan Bengawan Solo), dan Kalimantan (Kayan, Berau, Mahakam, Barito, Kahayan dan Kapuas). Selain di sungai-sungai besar, patin juga terdapat di waduk-waduk. Menurut Gustiano (2003), di Indonesia terdapat 13 species patin yang terbagi dalam 3 genus. Bila ditambah dengan Pangasius hypophthalmus yang berasal dari Thailand, berarti ada 14 species patin, terbagi dalam 4 genus.

keaneka ragaman species keluarga ikan patin tersebar secara tidak merata di setiap sungai utama dengan tingkat keanekaragaman spesies yang besar di Sumatera. Sedangkan di Kalimantan terjadi tingkat endemitas yang tinggi. Spesies ikan disebut endemik apabila penyebaran alaminya terbatas pada satu sistem badan air. Contohnya, Pangasius reophillus di Sungai Kayan dan Sungai Berau (Gustiano, R., et al., 2005)

Berdasarkan ilmu taksonomi, ikan patin mempunyai ordo (bangsa), dan subordo (subbangsa) yang sma dengan ikan lele.

Klasifikasi ikan patin secara lengkap adalah sebagai berikut :
Fillum : Chordata
Subfillum (Anak Fillum) : Vertebrata
Klas : Pisces
Subklas (Anak Kelas) : Actinopterygii
Infra Class : Teleostei
Super Ordo (Bangsa) : Ostariophysi
Ordo : Siluriformes
Subordo (Anak Bangsa) : Siluroide
Famili (Suku) : Pangasidae
Genus (Marga) : Pangasius
Spesies (Jenis) : Pangasius djambal

Ikan patin mempunyai bentuk tubuh yang memanjang, tidak bersisik dan bertubuh licin. Warnatubuh putih keperakan dan berkilau. Pada waktu muda, warna putih keperakan sangat mencolok, tetapi setelah dewasa akan menjadi agak pudar.

Kepala patin relatif kecil, dengan mulut yang terletak di ujung kepala sebelah bawah. pada sisi mulutnya terdapat sungut berjumlah 2 pasang. Sungut berfungsi sebagai peraba saat berenang. patin memiliki patil pada sirip punggung dan sirip dada. Sirip duburnya panjang, dimulai dari belakang dubur hingga pangkal sirip ekor (Anonim : Balai Pengembangan Budi Daya Perikanan Air Tawar, 2005).

Ikan patin lebih banyak menetap di dasar perairan dibanding di permukaan. Patin memang ikan dasar (demersal). Hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang melebar sebagaimana mulut ikan-ikan demersal. Di sengai tempat asalnya, patin selalu bersembunyi di dalam liang di tepi sungai. Keluar dari liang persembunyian setelah hari gelap. Ikan patin bersifat nokturnal, aktif pada malam hari (Anonim : Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar, 2005).

Larva patin makan pakan alami yang berupa binatang renik seperti kutu air dari golongan Daphnia, Cladocera dan Copepoda. Selain itu juga makan berbagai jenis cacing, larva, jentik nyamuk, siput kecil, dan udang-udangan kecil. Ikan patin memijah sepanjang musim penghujan (November - Maret). Pada akhir musim penghujan benih ikan patin biasa bergerombol di permukaan air sungai, terutama saat menjelang subuh.

Pada budidaya pembenihan, ikan patin tidak bisa berproduksi secara spontan seperti pada kebanyakan species ikan. Produksi bibit ikan dimungkinkan melalui pemberian hormonik yang merangsang ovulasi dan kemudian diikuti dengan pembuahan buatan.

Di Indonesia terdapat banyak jenis ikan patin lokal asli Indonesia. Menurut Gustiano (2005), di Indonesia terdapat 13 spesies lokal yang terbagi dlam 5 genus (marga), dan 1 spesies introduksi dari Thailand. Dari sekian spesies lokal yang sangat prospektif untuk dikembangkan adalah Pangasius djambal.

a. Genus Pangasius Valenciennes, 1840, terdiri dari 10 species. Semua species lokal mempunyai 6 sirip perut dan moncong bagian depan yang kuat. Lubang pencium bagian belakang dekat dengan bagian depan dan di atas lubang pencium bagian depan dan lingkaran.

  1. Pangasius lithosoma, Robert, 1989. Bersifat endemis di sungai kapuas kalimantan barat, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  2. Pangasius humeralis, Robert, 1989. Bersifat endemis di sungai kapuas, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  3. Pangasius nieuwenhuisii, Popta, 1904. Disebut ikan lawang, bersifat endemis di sungai mahakam, Kalimantan Timur, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  4. Pangasius makronema, Bleeker, 1851. Tersebar di Sungai Kahayan. Dikenal dengan nama lokal ikan rios, riu, lacing. Cirinya, mempunyai gigi vomerin dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas 100,5 - 203,9 % dari panjang kepala.
  5. Pangasius polyuranodon, Bleeker, 1852. Tersebar luas di Sungai Barito, Brantas, Bengawan Solo, Batanghari, Indragiri, Way Rarem. Nama lokalnya adalah ikan juaro. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas kurang dari 100,5 panjang kepala. Panjang pedrosal (jarak dari ujung mulut sampai duri keras sirip punggung pertama) 25,1 - 31,2 % panjang standar.
  6. Pangasius mahakamensi, pouyaud, Gustiano, Teugels, 2002. Bersifat endemis di sungai mahakam, KalimantanTimur. cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas kurang dari 100,5 panjang kepala. Panjang pedrosal 30,1-32,7 % dari panjang setandar.
  7. Pangasius kunyit, Pouyoud, teugels, dan Legendre,1999. Tersebut luas disungai Musi, Batanghari, Indragiri, Barito, Kahayan, Kapuas. Nama lokasinya :patin kunyit. Cirinya, mempunyayi gigi vomerine dengan perpanjang sisi. jarak dari ujung mulut ke isthmus ( celah pada hulu kerongkongan ) yang pendek.
  8. Pangasius rheohilus, pouyoud dan teuglels, 2000. Bersifat endemis di sungaikayan dan sungai bereu, Kalimantan timur. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Lebar sirip Keras punggung antara 4,7-6,2 %panjang kepala.
  9. Pangasius nasutus, Bleeker, 1846. Tersebar luas di sungai Brantas, Bengawan solo Barito dan kahayan.Disebut sebagai ikan pedado. Cirinya, mempunyai gigi vomirine dengan perpanjang sisi, mempunyai 16-24 tapis insang pada lengkung insang pertama.
  10. Pangasius djambal.Bleeker, 1846. Tersebar luas disungai Way Rarem, Musi, Brantas, Bengawan solo, Barito, Kahayan. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi, mempunyai 27-39 lapis insang pada lengkung insang pertama.
b. Genus Pteropangasius Fowler, 1937, terdiri dari satu sepesies.mempunyai 6 sirip perut, moncong 
bagian depan kuat. Lubang pencium bagian belakang dekat dengan bagian depan dan di atas lubang pencium bagian depan dan lingkaran.
c. Pangasius micronemus Bleeker, 1947. Nama lokal: ikan wakal, rius caring . mempunyai mata relatif besar, sungut rahang atas pendek, sirip pungung dandada relatif kecil.
d. Genus Helicophagus wleeker, 1858. Ada dua sepesies: ikan dengan dua sirip perut dan moncong ramping. Lubang pencium bagian belakang terletak antara lubang pencium depan dan oriba ( ronga tempat bola mata ).

  1. Helicophagus typus, Bleeker, 1858. Tersebar luas di sungai Musi, Batanghari, Indragiri, Barito, kahayan, Kapuas.
  2. Helicophagus Waandersii, Bleeker, 1858. Tersebar luas di sungai Musi batanghari Indragiri.
e. Genus Pangasianodon Chevery, 1930, di intoduksi dari thailand untuk kepentingan akualakutur.
f. Pangasius hypopthalmus. merupakan sepesies ikan menyebar di sentra budi daya ikan patin. Cirinya, mempunyai 6-8 sirip perut, ukuran pedrosal yang panjang, sirip keras, punggung membulat.
(Gustiano R., et al, 2005)

TABEL STANDAR KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN PATIN
Parameter Kualitas Air
Standar Kualitas Air
Suhu
28 – 32 °C
pH
6 - 7
Oksigen Terlarut (DO)
4,5 – 6,5 mg/lt
NH3
< 0,05 ppm
Transparansi
40 – 60 cm
Karbondioksida (CO2)
9 – 20 ppm
Nitrit ( NO2 )
< 0,05 ppm
Alkalinitas
> 20 mg/lt
Kesadahan Total
> 20 mg/lt
(Anonim, Balai Pengembangan Budi Daya Air Tawar, 2005).
Agar budidaya ikan patin mendatangkan keuntungan yang optimal, maka harus dilakukan pengelolaan tempat budidaya, benih, kualitas air, pakan, dan pengendalian penyakit.

Berikut ini diuraikan kunci sukses pembesaran ikan patin:
a. Tempat Budidaya. Budidaya ikan patin lebih efektif jika dilakukan pada kolam air deras, walau juga bisa dibudidayakan di kolam air tenang. Budidaya pada ikan air deras bisa dilakukan apabila suatu lokasi mempunyai debit air >20 liter/detik. Ikan patin juga bisa dipelihara di karamba yang diletakkan di sungai atau saluran irigasi. Lokasi yang digunakan untuk meletakkan karamba harus di pilih yang tidak tercemar limbah kimia berbahaya.
b. Benih. Benih merupakan komponen yang sangat penting untuk diperhatikan dalam suatu budidaya, termasuk budidaya ikan patin. Benih ikan patin yang ditebar untuk pembesaran secara intensif adalah yang berukuran 20 gr. Benih patin ukuran tersebut untuk dapat dipanen dengan bobot 200 gr membutuhkan waktu 2,5 bulan. Bila dipanen dengan bobot 400 - 500 gr maka membutuhkan waktu 5 bulan.
Padat tebar benih ikan dengan berat 20 gram, menurut jenis wadah budidaya secara intensif adalah : 
  • Kolam Air Deras ( KAD ) : 50 ekor/meter kubik (m3).
  • Karamba : 25 ekor/m3.
  • Karamba Jaring Apung ( KJA ) : 50 ekor/m3.
Benih yang baik mempunyai kriteria tubuh normal, pergerakan aktif dan lincah melawan arus ataupun terhadap rangsangan dari luar, serta berukuran seragam.
c. Pengelolaan Pakan. Pemberian pakan harus dalam jumlah yang tepat, tidak berlebih maupun kurang. Pakan yang berlebih akan menurunkan kualitas air karena pembusukan sisa pakan, sedangkan kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan budidaya menjadi lambat. pakan ikan yang diberikan pada ikan patin bisa dibuat sendiri atau dengan membeli. Kandungan protein minimal adalah 25%. Dalam sehari jumlah pakan yang diberikan 3% dari berat total ikan aktual berdasarkan biomass. Jumlah tersebut dibagi menjadi tiga untuk diberikan pada pagi hari, siang hari dan malam hari. Misalnya berat rata-rata ikan 100 gr, populasi dalam kolam 10.000. Berarti biomass dalam kolam 1.000 kg. Jumlah pakan per hari adalah 1.000 kg  x 3% : 30 kg. Dalam sehari pakan yang diberikan adalah 30 kg, diberikan 3 kali, masing-masing sekitar 10 kg. Nafsu makan ikan dipengaruhi suhu air. Pada pagi nafsu makan ikan kurang baik. Oleh karena itu jumlah pakan yang diberikan di pagi hari dikurangi untuk diberikan pada siang hari dan sore hari.
d. Pengelolaan Kualitas Air. Budidaya pada kolam air deras dan karamba perlu selalu memperhatikan kualitas iar yang digunakan untuk budidaya. Apabila kondisi air berbahaya bagi kehidupan ikan maka harus dilakukan tindakan penyelamatan. Pemakaian KJA untuk budidaya perlu memperhatikan lokasi perairan. Bila sudah melebihi 1% dari total luas perairan, KJA sebaiknya tidak digunakan.
e. Pencegahan Penyakit. Budidaya ikan patin yang dilakukan di kolam air deras, karamba, atau karamba jaring apung, airnya terus berganti sehingga serangan penyakit relatif jarang terjadi. Untuk mengantisipasi agar hama penyakit tidak menyerang :

  1. Untuk kolam air deras, sebelum diisi air, awali dengan pengeringan kolam selama 14 hari. Dasar kolam diberi kapur.
  2. Jaga sanitasi lingkungan.
  3. Penebaran benih ikan dalam jumlah optimum, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.
  4. Pemberian pakan tidak berkurang.
  5. Hindari masuknya binatang lain seperti burung, siput, kepiting, yang bisa membawa penyakit.


Budidaya Pembesaran Ikan Mas

Ada beberapa nama sebagai sebutan akrab ikan mas (Cyprinus carpio). Dalam bahasa inggris dikenal sebagai  Common carp. Di sumatera disebut ikan roya atau ikan ameh. Di jawa disebut tombro dan ikan mas-masan.

Ikan mas berasal dari Cina dan Rusia. Di Indonesia, mulai masuk ke ciamis (Galuh), Jawa Barat, pada tahun 1810, dan mulai berkembang tahun 1860. Selanjutnya ikan mas masuk sumatera, yaitu di Bukittinggi, berkembang tahun 1903, di Padang Sidempuan tahun 1903, di Medan 1905. Selain di Sumatera, ikan mas juga dikembangkan di Sulawesi, yaitu di Tondano pada tahun 1895, di Manado 1905 dan di sulawesi Selatan mulai tahun 1936. Di Bali dan Flores ikan mas mulai dikembangkan pada tahun 1932.

Penyebaran ikan mas sudah sangat lamadan meluas di berbagai daerah Indonesia karena pembudi-dayaannya cukup mudah. Ikan mas dapat beradaptasi dengan baik di berbagai lingkungan.

Untuk memudahkan identifikasi dan melihat kekerabatan ikan mas dengan ikan lain telah dilakukan klasifikasi berdasarkan ilmu taksonomi. Klasifikasi ikan mas secara lengkap adalah sebagai berikut :

Fillum    : Chordata
Subfillum (Anak Fillum)    : Vertebrata
Class (Kelas)    : Pisces
Subclass (Anak Kelas)    : Actinopterygii
Infra Class    : Teleostei
Super Ordo    : Ostariophysi
Ordo (Bangsa)    : Cypriniformes
Subordo (Anak Bangsa)    : Cyprinoidea
Famili (Suku)    : Cyprinidae
Subfamili (SubSuku)    : Cyprininae
Genus (Marga)    : Cyprinus
Spesies (Jenis)    : Cyprinus carpio L.

Tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan (protaktil). Pada bagian interior mulut terdapat dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang berbentuk tiga baris gigi geraham.

Secara umum selurtuh tubuh ikan mas ditutupi sisik. Namun demikian ada pula varietas yang hanya memiliki sedikit sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam sisik type sikloid (lingkaran).

Sirip punggung (dorsal) memanjang, pada bagian belakang berjari keras, dan di bagian akhir, yakni sirip ketiga dan keempat, bergigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventol). Sirip dubur (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yakni berjari keras dan bagian akhir bergigi.

Garis rusuk (linea laterais: gurat sisi) pada ikan mas tergolong lengkap, berada di pertengahan tubuh, melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangakl ekor.

Habitat ikan mas adalah perairan air tawar yang airnya tidak terlalu dalam dengan aliran yang tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas termasuk golongan ikan omnivora, yaitu ikan pemakan berbagai jenis pakan dari tumbuhan maupun binatang renik. Makanan utamanya adalah binatang dan tumbuhan yang berada di dasar dan tepian perairan.

Di alam ikan mas memijah pada awal musim hujan. Secara alamai pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Namun di kolam budidaya, ikan mas dapat dipijahkan sepanjang tahun dan tidak tergantung musim. Telur ikan mas menempel pada substrat tanaman air dan rerumputan yang menutup permukaan. Telur ikan ini berbentuk bulat, bening dengan diameter 1,5-1,8 mm dan berbobot 0,17-0,2 mg. Larva ikan mas mempunyai kantong kuning telur sebagai cadangan makanan yang akan habis 2-4 hari setelah telur menetas. Larva menjadi kebul setelah 4-5 hari. Pakan alami kebul yaitu zooplankton, sperti rotifera, moina, daphnia. Pada umur 2-3 minggu, kebul akan menjadi burayak berukuran 1-3 cm, dengan bobot 0,1-0,5 gram. Umur 5-6 minggu burayak tumbuh menjadi putihan yang berukuran panjang 3-5 cm dan bobot 0,5-2,5 gram. Setelah berumur 3 bulan, burayak akan menjadi gelondongan yang mempunyai bobot sekitar 100 gr/ekor.

Jenis-jenis ikan mas yang sering dibudidayakan dengan tujuan konsumsi adalah :
a. Ras Majalaya. Ras ini berkembang pertama kali di Majalaya, Bandung, Jawa Barat. Badannya berukuran relatif lebih pendek dengan punggung lebih tinggi dan lancip dibanding ikan mas lainnya. Perbandingan panjang dan tinggi adalah 3,2:1. Punggung membungkuk pada batas antara kepala dan punggung. Warna sisik hijau keabuan dengan tepi lebih gelap. Sisik dibagian bawah insan dan bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan. semakin kearah punggung, warna sisik akan semakin gelap. Ikan mas majalaya relatif lebih jinak dan biasa berenang dipermukaan. Ikan mas ini unggul dalam pertumbuhannya yang relatif cepat dan tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophilla. Ikan mas Majalaya telah dilepas oleh Menteri Pertanian pada tahun 1999 dalam rangka HUT Badan Litbang Pertanian ke-25.
b. Ras Punten. Ikan ras Punten telah dikembangkan sejak 1933 di Desa Punten, Malang, Jawa Timur. Badannya pendek dan bagian punggung relatif lebar dan tinggi sehingga terkesan membuntak (big belly). Perbandingan panjang total dan tinggi yaitu 2,3-2,4:1. Jadi ikan mas ras Punten terkesan lebih pendek. Warna ikan mas Punten adalah hijau gelap. Mata agak menonjol dan gerakannya lambat dan jinak.
c. Ras Putri Jogja atau Si Nyonya. Dikatakan ras si nyonya karena mudah bertelur. Badan ikan ras si nyonya relatif panjang dengan punggung yang relatif rendah dibanding ras punten maupun majalaya. Perbandingan panjang dan tinggi badan ikan adalah 3,6:1. Sisik ikan berwarna kuning muda (jeruk sitrun). Pada ikan yang masih muda, mata agak menonjol dan menjadi sipit bila telah dewasa. Ikan ras si nyonya lebih jinak dibanding ras punten, suka berkumpul dipermukaan air. Jumlah telur (fekuditas) ikan mas si nyonya 114.000-135.000 dengan diameter telur 0,3-1,5 mm.
d. Ras Merah. Bentuk badannya relatif panjang. Dibanding ras si nyonya, penampang badan bagian punggung relatif lebih rendah dan tidak lancip. Matanya agak menojol. Ciri yang mencolok adalah warna sisiknya yang merah keemasan. Gerakannya aktif, tidak jinak, dan suka mengaduk-aduk dasar kolam.
e. Ras Taiwan. Bentuk badan ikan mas ras Taiwan relatif panjang dengan penampang punggung berbentuk busur agak membulat. Sisik berwarna hijau kekuningan sampai kuning kemerahan ditepi sirip dubur dan dibawah sirip ekor. Ikan ini responsif, saling berebut makanan yang terapung.
(Anonim : Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar / BPBPAT, 2005)

Ikan mas dapat tumbuh normal bila dipelihara pada lokasi dengan ketinggian 150-1000 m diatas permukaan laut (dpl).

TABEL STANDAR KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN MAS
Parameter Kualitas Air
Standar Kualitas Air
Suhu
20 – 25 °C
Ph
7 – 8
Oksigen Terlarut (DO)
> 5 mg/lt
NH3
<0.02 mg/lt
Kekeruhan
40 – 60 cm
Karbondioksida (CO2)
2 – 11 mg/lt
Nitrit (NO2)
<0.05 ppm
Alkalinitas
> 20 mg/lt
Kesadahan Total
> 20 mg/lt

Ikan mas bersifat herbivora, menyukai air yang jernih dan mengalir. Ikan ini masih satu famili dengan ikan tawes dan nilem, yaitu dalam famili Cyprinidae. Ikan mas tidak memiliki alat pernafasan yang berupa labirynth sebagaimana yang terdapat pada ikan lele maupun gurami sehingga tidak tahan hidup di air dengan kadar oksigen rendah.

Agar budidaya ikan mas mendatangkan keuntungan yang optimal, perlu diperhatikan hal berikut :
a. Tempat budidaya. Budidaya pembesaran ikan mas bisa dilakukan dengan menggunakan kolam air deras (KAD), karamba, maupun karamba jaring apung (KAJ). Budidaya pada kolam air deras akan lebih baik bila kondisi airnya jernih seperti di daerah pegunungan dan memiliki suhu 20-25 °C. Ikan mas juga bisa dipelihara di karamba. Air sungai ataupun aliran irigasi yang digunakan untuk meletakkan karamba yang dipilih untuk meletakkannya harus jernih dan tidak tercemar limbah kimia. Budidaya dengan karamba jaring apung harus memperhatikan kapasitas / daya dukung perairan. Bila total area untuk budidaya sudah melebihi  1% waduk ataupun danau tersebut sudsh tidak memadai untuk digunakan sebagai tempat budidaya.
b. Benih. Masing-masing daerah mempunyai kesenangan yang berbeda terkait dengan jenis ikan yang akan dibudidayakan. Yang banyak dibudidayakan di Bogor, Sukabumi, Bandung Garut, Tasikmalaya adalah jenis ikan mas Majalaya. Sedang petani Yogyakarta menyukai jenis si nyonya. Untuk daerah malang dan sekitarnya, petani ikan menyukai jenis punten. Pada tahung 1999 jenis ikan mas majalaya sudah ditetapkan sebagai jenis unggul melalui SK Menteri Pertanian.
Jumlah penebaran benih ikan mas dengan bobot 25 gr/ekor yang dibudidayakan pada : 
Kolam Air Deras (KAD) adalah 100 ekor/m3.
Karamba adalah 50 ekor/m3.
Karamba Jaring Apung adalah 50 ekor/m3.
c. Pengelolaan Pakan. Pemberian pakan ikan mas harus dilakukan dalam jumlah yang tepat. Pakan yang diberikan tidak boleh berlebihan ataupun kurang. Pakan yang berlebih akan mengakibatkan memburuknya kualitas air akibat sisa paka, sedang kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Pemeliharaan ikan di kolam air deras harus menggunakan pakan yang berkualitas karena air kolam miskin makanan alami. Pakan yang baik untuk ikan mas adalah yang mengandung protein 25%. Dalam sehari jumlah pakan yang diberikan adalah 3,5% dari berat total ikan aktual (biomass). Jumlah pakan tersebut dibagi menjadi tiga, diberikan pagi, siang dan malam hari. Untuk mengetahui berat ikan aktual (biomass) dilakukan dengan sampling berat rata-rata ikan (Mean Body Weight,MBW). Biomass ikan adalah MBW dikalikan taksiran populasi ikan yang masih hidup.
d. Pengelolaan Kualitas Air. Pemeliharaan ikan mas di kolam air deras dan karamba perlu memperhatikan kualitas air yang digunakan untuk budidaya. Untuk budidaya pada KJA perlu dilihat apakah area KJA pada lokasi perairan yang digunakan untuk budidaya sudah lebih dari 1% total luas perairan. Bila persentase luas permukaan untuk budidaya melebihi 1% maka penambahan KJA akan mengakibatkan semakin menurunnya kualitas air. Sisa pakan dan kotoran akan menumpuk didasar air, meningkatkan kadar amonia, fluktuasi pH, dan semakin pekatnya plankton. Kondisis tersebut dapat mengakibatkan terjadinya umbalan (Up Welling), yang mana bahan sisa yang ada di dasar kolam naik ke eprmukaan. Umbalan akan mengakibatkan kematian iakan budidaya karena keracunan amonia dan kandungan oksigen pada air yang terlalu rendah.
Umbalan biasa terjadi sehabis hujan lebat yang mengakibatkan suhu dipermukaan air menjadi dingin. Air dan bahan orgsanik yang ada di dasar perairan, yang suhunya lebih hangat, akan naik karena memiliki berat jenis (BJ) yang lebih ringan. Pada tahun 1997 terjadi kematian massal ikan budi daya di Danau Maninjau (Luas : 9.950 Ha). Ditaksir ada 950 Ton Ikan yang mati pada saat itu. Nilainya mencapai 2,7 miliar. Pergerakan massa air dari dasar ke permukaan dengan membawa bahan organik beracun juga sering terjadi di Waduk Cirata (7.900 Ha). Hal ini disebabkan oleh daya dukung perairan yang melemah akibat terlalu banyaknya Karamba Jaring Apung (KJA).
e. Pencegahan Penyakit. Pada budidaya di kolam deras, budidaya di karamba yang diletakkan di sungai, dan budidaya di KJA, airnya selalu mengalir dengan baik sehingga resiko serangan penyakit relatif rendah. Walaupun demikian petani harus tetap waspada.


VITERNA SERBUK

Nantikan kehadiran VITERNA SERBUK sebuah inovasi dari kami untuk kemajuan peternak dan mudah untuk diaplikasi serta mudah dalam pengiriman ke dalam dan luar pulau... VITERNA SERBUK Inovasi Kemajuan Keberhasilan Peternakan & Perikanan Tiada Henti. HUBUNGI 081-225-9999-01 BlackBerry 2B11A003.


Mengenal Tangguh Probiotik Peternakan

TANGGUH PROBIOTIK pasukan khusus / KOPASSUS teman peternak dan pembudidaya ikan...

Semakin majunya bio teknologi di dunia akhir-akhir ini banyak sisi positif yang bisa dimanfaatkan untuk membantu kehidupan manusia dan lingkunganya. Sebagian komponen pemanfaatan biotek adalah dengan menggunakan mikroorganisme (jasad renik) dalam membantu segala proses di sekitar kehidupan manusia maupun lingkungan. Seiring dengan kemajuan itu, research and development (R&D) PT. Nasa menghadirkan produk hasil pengembangan bioteknologi yang berbasis mikroorganisme / mikrobia, yaitu TANGGUH yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan indonesia di sektor agrokomplek.

Mengacu pemanfaatanya dan kebutuhanya tersebut, maka PT. NASA menghadirkan produk ini dengan merk TANGGUH Probiotik (Probiotik).


TANGGUH PROBIOTIK
Istilah probiotik berlaku bagi mikroorganisme yang memberi kebaikan jika ditambahkan kedalam lingkungan tertentu, baik lingkungan yang berada didalam tubuh makluk hidup maupun lingkungan diluar makluk hidup seperti di lingkungan perairan (Aquaculture). Probiotik ini akan menciptakan kondisi yang kondusif dan nyaman bagi kehidupan disekitarnya jika ditambahkan kedalamnya. Sehingga dengan demikian inang dan habitat yang ditumpangi akan semakin sehat dan kondusif bagi berlangsungnya kehidupan didalamnya.

1. TANGGUH PROBIOTIK UNTUK PENCERNAKAN TERNAK DAN IKAN
TANGGUH Probiotik mengandung beberapa jenis mikrobia yang mempunyai peranan penting dalam ekosistem usus ternak dan ikan. Penambahan mikrobia baik (Good Microbia) dalam TANGGUH Preobiotik akan menjaga keseimbangan ekosistem dalam pencernakan atau usus ternak dan ikan, sekaligus akan mengeliminir pertumbuhan mikrobia maupun mikroflora yang bersifat patogenik atau merugikan dalam pencernakan ternak dan ikan. TANGGUH Probiotik ini akan membantu efektifitas VITERNA didalam menyuplai mineral, vitamin dan nutrisi di dalam sistem pencernaan ternak, ikan dan udang.
Mekanisme membuat kondisi tidak nyaman dan penghambatan pertumbuhan mikrobia jelek atau patogenik di dalam sistem pencernaan adalah dengan :

  1. Dihasilkanya metabolik dalam bentuk senyawa senyawa antimikrobia misalnya nisin, Lactocidin, hidrogen peroksida dan senyawa anti mikrobia lain.
  2. Kompetisi dalam menyerap nutrisi esensial, karena sekresi senyawa antimikrobia diatas membuat mikrobia yang merugikan terhambat dan kalah dalam kompetisi ini.
  3. Kemampuan beberapa jenis mikrobia dalam TANGGUH Probiotik untuk hidup dalam suasana masam, hal ini didukung dengan kemampuan beberapa mikrobia seperti Lactobacillus, streptococcus sp, Lactococcus sp,. Didalam TANGGUH probiotik yang menghasilkan metabolit yang sifatnya masam, kondisi ini menyebabkan beberapa mikrobia patogen terhambat pertumbuhan dan mati.
  4. Penguasaan permukaan dinding usus untuk menempel mikrobia TANGGUH probiotik yang membuat mikrobia yang merugikan tidak mendapat media untuk hidup.
Sedangkan fungsi lain TANGGUH Probiotik bagi ternak atau ikan adalah :

  1. Mengurangi kembung karena kemampuan menyerap gas dari mikrobia TANGGUH probiotik ini.
  2. Meningkatkan penyerapan Lactosa susu yang susah diserap usus, sehingga Lactosa akan dirubah menjadi gulka sederhana yang mudah diserap.
  3. Menurunkan kadar kolesterol dalam daging ikan dan ternak. Hal ini karena kemampuan dari mikrobia dalam usus atau lambung hewan dalam melarutkan lemak dan mengubahnya menjadi energi.
  4. Meningkatkan penyerapan nutrisi, vitamin dan antioksi dan dari makanan yang diberikan.
  5. Menekan pertumbuhan bakteri E.Coli, salmonella, sp dan bakteri bakteri patogen lain, sehingga tercipta keseimbangan dalam lambung dan usus ternak dan ikan.
Untuk mencapai manfaat itu, khusus pemakaian TANGGUH Probiotik untuk ternak besar (RUMINANSIA) sangat efektif jika dicampurkan pakan hijauan, jerami dan sebagainya. Hal ini selain akan meningkatkan kualitas dari pakan hijauan atau jerami juga membantu usus dan lambung dalam mempercepat penyerapan nutrisi dari pakan tersebut. Selain itu diharapkan pada saat musim kering dimana di beberapa daerah susah untuk mendapatkan hijauan, akan membantu ketersediaan pakan ternak. Karena bisa di substitusi dari jerami padi, cangkang buah kakau dsb. Pemakaian TANGGUH Probiotik untuk fermentasi pakan ternak akan meningkatkan aroma dan rasa yang disukai ternak, hal ini karena dalam proses fermentasi tersebut senyawa-senyawa karbohidrat, protein, lemak dalam bentuk rantai panjang akan diubah menjadi senyawa rantai pendek seperti gula, amylum (pati), asam amino, dan asam-asam lemak yang aroma dan rasanya lebih disukai oleh ternak. Selain itu juga membantu proses penyerapan jika sudah masuk tubuh ternak.

2. TANGGUH PROBIOTIK UNTUK EKOSISTEM KOLAM DAN TAMBAK
Keberadaan mikrobia-mikrobia TANGGUH Probiotik di ekosistem perairan khususnya untuk budidaya udang atau ikan sangat-sangat diperlukan, karena akan membantu ikan dan udang untuk tidak mudah stres sehingga secara otomatis akan meningkatkasn kekebalan terhadap penyakit dan mengurangi tingkat kematian mendadak karena pengaruh lingkungan yang ekstrim. Pemakaian TANGGUH Probiotik ini akan membantu meningkatkan efektifitas dari pupuk TON (Tambak Organik Nusantara) sehingga kondisi perairairan menjadi seimbang dan nyaman untuk hidup ikan dan udang.
Sistem kerjanya adalah :

  1. Menguraikan senyawa-senyawa berbahaya di dasar kolam sebagai residu dari pakan yang tidak termakan, bangkai-bangkai ikan atau udang yang mati, pengendapan dari plankton yang mati, ganggang (klekap) dan sebagainya. Penguraian ini dapat bersifat aerob (Bantuan Kincir atau Aerator) atau an-aerob (Tanpa Oksigen atau Udara). Daei proses penguraian inilah kemudian dilepaskan CO2 yang kemudian ditangkap oleh phytoplankton untuk membantu proses fotosintesa pada siang hari. Selain itu penguraian oleh mikrobia juga bisa menurunkan kadar amonia dan H2S (Hidrogen Sulfida) di dalam air yang sangat beracun terhadap udang atau ikan. Sehingga secara otomatis juga berpengaruh terhadap kestabilan pH air atau tanah dasar kolam. Kondisi ini akan menyebabkan ikan atau udang hidup dengan nyaman di kolam atau tambak / empang dan tidak mudah stress.
  2. Meningkatkan kemampuan ekosistem kolam untuk mengendapkan dan mengikat logam-logam berat di tambak atau kolam yang kebanyakan berasal dari residu pestisida, limbah pabrik. Dengan proses chelat dan pertukaran ion maka logam-logam berat akan dijerab dan diendapkan sehingga tidak akan masuk ke dalam tubuh ikan atau udang, sehingga sehat untuk dikonsumsi manusia.
  3. Membantu mempercepat pembentukan plankton yang menguntungkan baik zooplankton maupun phytoplankton. Karena selain melepas CO2 dalam proses decomposisi, juga secara langsung membantu pemecahan mineral (Mineralisasi) senyawa-senyawa didalam kolam. Selanjutnya mineral ini merupakan nutrisi untuk phytoplankton yang membentuk warna air menjadi hijau, hijau kecoklatan, kuning kehijauan, coklat, dan merah (Warna plankton yang menguntungkan kehidupan ikan dan udang).
  4. Beberapa bakteri Nitrat,phospat dan kalium dalam TANGGUH Probiotik akan membantu ketersediaan ketiga unsur tersebut sehingga dalam sistem budidaya sudah tidak diperlukan pupuk N (Urea), P (SP-36), dan K (KCL).
  5. Mempertahan kondisi ekosistem air (AQUATIK) yang seimbang, sehingga parameter yang mendukung juga lebih stabil, seperti suhu / temperatur tidak mudah berubah-ubah baik kondisi hujan dan perubahan siang dan malam, pH lebih stabil di kisaran netral, Oksigen terlarut (DO : Dissolve Oxigen) lebih terjaga, kandungan gas beracun bisa tertekan (amonia, H2S) dan siklus kematian plankton lebih panjang.
  6. Menekan berbagai penyakit dan patogen dalm air dan dasar kolam. Karena kemampuan mikrobia di dalam TANGGUH Probiotik yang mampu mensekresikan senyawa-senyawa antimikrobia.
Yang perlu mendapatkan perhatian adalah, bahwa pemakaian TANGGUH PRObiotik di air jangan sampai di campur dengan pupuk kandang, Limbah-limbah pabrik dan sampah. Hal ini untuk menghindari rekayasa lingkungan yang terlalu ekstrim di dalam kolam atau tambak, karena bahan-bahan diatas komposisinya belum bisa dipertanggung jawabkan.

TANGGUH PROBIOTIK sebelum dipakai langsung ke kolam bisa di aktivasi dengan bahan-bahan seperti Gula, Dedak (Bekatul), Jus Pisang, Putih Telur atau Ragi (Yeast). Pemberian bahan-bahan ini akan membantu aktivasi sel-sel spora yang dorman, dan menyiapkan makanan duluan sebelum dipekerjakan di kolam atau tambak. Tetapi jika dipakai langsung ke air sudah bisa memberikan pengaruh positif secara langsung juga, karena begitu berinteraksi dengan nutrisi organik dasar kolam atau air akan bereaksi sama juga.


Tangguh Probiotik Peternakan Perikanan

TANGGUH Probiotik diformulasikan khusus untuk menyempurnakan proses fermentasi di dalam pencernaan ternak dan ikan sehingga pertumbuhan lebih cepat.
TANGGUH Probiotik dibuat dari bahan-bahan alami murni sehingga aman dan sehat serta meningkatkan gizi, cita rasa, dan palatabilitas (tingkat kesukaan ternak).
TANGGUH Probiotik juga berfungsi meningkatkan kesuburan perairan sekaligus kesehatan ikan dan udang.

tangguh probiotik untuk ternak dan ikan untuk menyempurnakan proses fermentasi dalam pencernaan
TANGGUH PROBIOTIK
KANDUNGAN Mikroorganisme Berguna :

  • Lactobacilus sp. = 2,5 x 10 pangkat 7 cfu/ml
  • Saccharomyces sp. = 8,20 x 10 pangkat 7 cfu/ml
  • Azotobacter sp. = 1,31 x 10 pangkat 6 cfu/ml
  • Streptomyces sp. = 2,42 x 10 pangkat 6 cfu/ml
  • Aspergillus sp. = 1,90 x 10 pangkat 5 cfu/ml
  • Trichoderma sp. = 2,8 x 10 pangkat 5 cfu/ml
Keterangan :
Tidak mengandung bakteri patogen (bakteri merugikan)

DOSIS PEMAKAIAN

  • Ternak : 2 tutup botol (± 20 cc) per 20 liter air untuk 100 kg pakan ternak hijauan/jerami. 1 tutup botol (± 10 cc) per 1 liter air untuk 5 kg pakan konsentrat.
  • Udang : 5 - 6 liter / Ha
  • Ikan : 3 - 6 liter / Ha
Pemakaian Untuk Pakan Ternak / Cara membuat pakan Fermentasi Ternak :
Bahan dicacah hingga berukuran ± 5 cm lalu ditumpuk setebal ± 20 cm, dan disiram larutan TANGGUH Probiotik sesuai dosis, kemudian taburkan bekatul. Tumpuk lagi bahan diatasnya dan ulangi prosedur yang sama terus-menerus hingga ketinggian ± 1 meter. Tutup rapat 1 - 3 hari lalu setelahnya dibuka dan dikeringanginkan sebelum diberikan ke ternak.

Untuk menyempurnakan proses pencernaan & metabolisme dalam tubuh ternak TANGGUH Probiotik dipakai bersama dengan VITERNA.

Pemakaian untuk kolam Udang dan Ikan :
  • Larutkan TANGGUH Probiotik ± 2 - 3 liter bersamaan dengan TON (Tambak Organik Nusantara) dengan air secukupnya lalu disiramkan merata ke tanah dasar tambak / kolam pada tahap persiapan lahan (belum ada air)
  • Larutkan TANGGUH Probiotik ½ liter, campur air secukupnya lalu siramkan merata ke air tambak /kolam setiap 2 minggu sekali (bersamaan dengan aplikasi TON) selama 6 kali mulai umur 21 hari.
Pemakaian untuk Pakan Udang & Ikan : 
Larutkan 5 cc (½ tutup) TANGGUH Probiotik dan ± 10 cc (1 tutup) VITERNA dalam air secukupnya untuk dicampur dengan ± 8 - 10 kg pakan udang / ikan.

VOLUME
1 Liter
Surat Izin Usaha Perdatangan (SIUP) 
Siup MENENGAH Nomor : 503/00182/PM/X/2012

HUB : 081-225-9999-01
Pin BBM 2B11A003


Harga Tangguh Probiotik Peternakan

Terimakasih atas kepercayaan dan kerjasamanya. Dalam rangka memperkuat daya saing dan memperluas pasar, berikut kami sampaikan Daftar Harga Produk Unggulan Terbaru yaitu "TANGGUH PROBIOTIK" yang siap di order oleh Para Mitra Peternak dan Mitra Perikanan di seluruh wilayah Nusantara.

harga probiotik tangguh nasa
Probiotik Tangguh
Harga 1 Liter PROBIOTIK TANGGUH wilayah Jawa adalah Rp. 70.000,-
Wilayah / Daerah Lampung, Bali, Ujung Pandang, Palangkaraya, Banjarmasin, Balikpapan, Bengkulu, Palembang, Nusa Tenggara Barat, Amuntai, Tanah Bumbu adalah Rp. 74.000,-
Wilayah Kendari, Pontianak, Pekanbaru, Jambi, Padang, Nusa Tenggara Timur, Medang, Bontang, Muara Teweh, Tarutung, Perawang, Tanah Grogot, Konawe, Kuala Kapuas, Pangkal Pinang adalah Rp. 76.000,-
Wilayah Palu, Toli-Toli, Manado, Ambon, Banda Aceh, Ketapang, Kutai Barat, Berau, Sanggau, Tarakan, Sintang, Batam adalah Rp. 79.000,-
Wilayah Jayapura, Manokwari, Sorong, Merauke, Papua, Maluku Utara adalah Rp. 84.000,-

Harga PROBIOTIK TANGGUH tersebut belum termasuk ongkos kirim. Dan untuk mendapatkan Gratis Biaya Ongkos Kirim, minimal pembelanjaan adalah 50 botol. Demikian atas kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

Call/Sms/WhatsApp : 081-225-9999-01
BlackBerry Messenger (BBM) : 2B11A003


Pembesaran 10 Jenis Ikan Air Tawar

Pada awalnya manusia cukup mengandalkan berburu ikan di sungai, rawa, waduk, atau laut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun demikian sekarang banyak yang kemudian beralih ke budidaya ikan. Awalnya budi daya ikan hanya dilakukan dengan membendung air di sungai, tanpa harus memberikan pakan. Setelah besar, ikan baru di panen.

Akuakultur sudah dikakukan manusia sejak 3500 SM, dengan membudi-dayakan ikan mas (cyprinus carpio) di kolam-kolam pemeliharaan di China. Dokumen tertua tentang budidaya ikan berjudul Classic of Fish Cultur ditulis oleh seorang politisi dan administrator China bernama Fan Li. Dalam dokumen yang diterbitkan tahun 475 SM itu dijelaskan tentang konstruksi kolam, seleksi induk, pengelolaan kolam dan stocking ikan.

Di Mesir, budidaya ikan dilakukan sebagai bagian dari pengembangan irigasi dengan spesies utama ikan tilapia (sejenis mujahir / nila). Orang mesir telah membuat patung ikan tilapia pada tahun 2000 SM.

Di Indonesia, budidaya ikan sudah dilakukan sejak abad XIV semasa kerajaan hindu berkuasa di tanah Jawa. budidaya ikan di tambak dilakukan dengan menebar benih ikan bandeng yang ditangkap dari muara sungai atau pantai. Berdasarkan data pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1821 sudah dicetak tambak seluas 32.389 Ha di pesisir utara Jawa. (Eko, Budi K., 2009).
Dilihat dari perkembangan peradaban manusia, teknologi akuakultur dibagi menjadi 7 fase, yaitu sebagai berikut:

  1. Fase 1: Membendung atau memagari sebagian kecil sungai dan ikan-ikan yang terperangkap dijaga agar tidak dimakan predator. Ikan-ikan tersebut dibiarkan saja tanpa diberi pakan dan ditunggu hingga besar.
  2. Fase 2: Membangun kolam-kolam budidaya sehingga makanan alami seperti algae bisa tumbuh. Usaha ini disebut sebagai bertani ikan.
  3. Fase 3: Kolam yang dibuat diberi pupuk sehingga algae bisa tumbuh lebih baik. Budidaya ikan fase 3 ini masih berlaku di negara-negara sedang berkembang, yaitu di Indonesia, Malaysia, Filipina, India, dengan membuat kolam, tambak, balong.
  4. Fase 4: Budidaya ikan di kolam dengan menggunakan pupuk organik dan un-organik serta pakan tambahan. Kadar oksigen dalam air ditingkatkan dengan menggunakan kincir. Fse ini juga telah berkembang di Indonesia. Praktik yang dilakukan di negara maju telah memunculkan masalah toxic algae bloom seperti yang terjadi di Eropa.
  5. Fase 5: Keterbatasan carring capacity pada kolam, tambak,  dan balong diatasi dengan mengalirkan air didalam kolam secara kontinyu. Kecepatan air disesuaikan dengan biologi ikan yang dipelihara. Aliran air di dalam kolam dapat menekan pertumbuhan algae, sementara pemberian pakan tambahan dikontrol dengan baik.
  6. Fase 6: Teknologi budidaya air lebih ditingkatkan dengan ketepatan pengaturan aliran air di dalam kolam, oksigen terlarut lebih tinggi, carring capacity yang meningkat dan produksi yang juga naik. Budidaya air pada fase ini banyak diterapkan untuk ikan laut, air payau dengan air pasang yang baik. fase ini juga banyak membantu budidaya invertebrata laut.
  7. Fase 7: Produksi ikan mencapai maksimum bila laju water turn over melalui kolam bisa maksimum. Setiap ikan menghendaki suatu volume air tertentu agar tahan hidup dan tumbuh. Faktor kebutuhan volume air tertentu itulah yang dimaksud dengan  space factor. Untuk menghilangkan keterbatasan space factor diusahakan sirkulasi air deras yang dengan cepat dapat membuang kotoran agar tidak terjadi kekurangan oksigen dengan jalan menggunakan filter dan pompa sirkulasi air. Dalam 7,8 liter dapat dipelihara 14 ekor salmo trutta yang beratnya masing-masing 0,2 kg (Handayani H dan Hastuti SD., 2002)

Pembesaran 10 Jenis Ikan Air Tawar kita bagi 2 (dua) golongan :

A. Budidaya Ikan Air Deras
B. Budidaya Ikan Golongan Air Tenang

A. Budi Daya Ikan Golongan Air Deras :
Ikan air deras adalah ikan yang tumbuh optimal bila dipelihara di aliran yang deras. Aliran air disebut deras apabila debitnya minimal 25 liter/detik. Debit optimal untuk pemeliharaan ikan adalah 50-100 liter/detik. Air yang mengalir deras mempunyai oksigen terlarut antara 6-8 ppm.
Ikan air deras biasanya hanya mempunyai insang sebagai alat pernafasan, tidak mempunyai labyrinth sebagai alat pernafasan tambahan. Ikan air deras mempunyai sirip ekor yang berbentuk cabang, bukan bulat. Contoh ikan air deras adalah ikan tawes, nilem, mas, patin, bawal. Ikan dengan sirip ekor bulat adalah ikan gurami, nila, sidat, lele, dan gabus. Ikan air deras bisa tumbuh optimal bila dipelihara pada air dengan aliran dan kaya oksigen. Walaupun demikian, ikan air deras juga bisa hidup di perairan tenang.
Tempat budi daya ikan air deras yang paling optimal adalah di tempat kolam air deras (KAD) maupun karamba yang dipasang di perairan yang dangkal dan mengalir deras.

I. Ikan Tawes
Ikan Tawes, Puntius javanicus, akan tumbuh dengan baik bila dibudidayakan di kolam air deras, karamba, maupun karamba jaring apung. Tawes merupakan ikan herbivora. Pakan buatan untuknya harus mengandung protein 25%. Tawes mempunyai beberapa nama daerah, yaitu : Bader Putih, di Madura : Badir, di Sumatera Barat : Taweh, Baru, di Sulawesi Selatan : Rampang, Kandia. Dalam bahasa inggris disebut Java Carp.
Di alam, ikan tawes biasa hidup disungai, danau, rawa, dan perairan umum lainya. ikan ini cenderung menyukai air jernih yang mengalir. penyebarannya meliputi sumatra, kalimantan, jawa, sulawesi, madura, bali, NTT, NTB, hingga papua. oleh sebab itu tawes disebut sebagai jenis ikan asli indonesia.
berdasarkan ilmu taksonomi, ikan tawes mempunyai hubungan kekerabatan dengan ikan mas maupun nilem, yaitu famili Cyprinidae.
klasifikasi ikan tawes secara lengkap adalah sebagai berikut:
Fillum                              : Chordata
Subfillum (anak fillum)      : Vertebrata
Class (kelas)                    : Pisces
Sub Class (Sub Klas)       : Actinopterygii
Inferior Class                    : Teleostei
Super order                      : Ostariophysi
Ordo (Bangsa)                  : Cypriniformes
Subordo (Anak Bangsa)    : Cyprinoidea
Famili (Suku)                     : Cyprinidae
Subfamili                            : Cyprininae
Genus (Marga)                   : Puntius
Species (Jenis)                    : Puntius javanicus Bleeker

Tubuh ikan tawes pipih kesamping (Compressed). kulit ikan mempunyai sisik berwarna putih keperak-perakan dan berukuran besar. sisik tersusun teratur dari depan kebelakang. mulut berada diujung tengah kepala (terminal) dihiasi sungut (barbell) 2 pasang. sungut berukuran sangat kecil namun masih terlihat jelas dengan mata telanjang.
sirip bagian punggung (dosal fin) tegak dengan jari-jari sirip kuat. sirip ekor (analfin) tegak dengan lobus membulat. Tawes memiliki garis rusuk berjumlah 29-31 buah. panjang ikan ini bisa mencapai 52cm dengan berat 2kg/ekor. Dikolam budidaya, ikan tawes maksimal bisa mencapai berat 1kg/ekor (santoso, B., dan tata s, 2001)
Perairan yang disukai ikan tawes adalah perairan yang jernih gemericik dengan kandungan oksigen (O2) yang tinggi. ikan tawes juga bisa hidup danau maupun rawa, bahkan di air payau dengan silinitas 7 ppt.
Anak ikan tawes makan Zooplankton, seperti Brachionus sp, Dophnia sp, Monia sp, Cyclops sampai mencapai panjang 8cm. Ikan tawes adalah herbivora, makan tumbuh-tumbuhan berdaun lunak, rumput-rumputan, ganggang (Hydrilla verticillata), dan lumut sutera. Ikan tawes juga memakan serangga yang hidup di air dan darat.
Di kolam budidaya, karamba, atau KJA, ikan tawes bisa diberi daun tumbuhan lunak seperti daun singkong, labu siam, lumut, dedak halus, atau pakan buatan.
Di alam, ikan tawes berpijah pada permulaan musim hujan. Pemijahan terjadi pada pukul 19.00-20.00. Di kolam pemeliharaan, ikan tawes dapat dipijahkan sepnjang musim. Untuk berpijah, ikan tawes menyukai aliran masuk yang cukup deras dan air yang gemericik. Pemijahan dilakukan terhadap ikan tawes yang telah matang gonad. Untuk Tawes betina, matang gonad dicapai pada saat umur 12 bulan, sedangkan ikan jantan matang gonad pada umur 6-8 bulan.
Telur-telur yang baru dibuahi mempunyai diameter 1 mm, tetapi sesaat kemudian akan berkembang menjadi 2 mm. Berbeda dengan ikan gurami, mas/tobro, dan lele yang menempelkan telurnya pada subtrat/kakaban, telur ikan tawes melayang-layang diatas dasar kolam.
Seekor ikan tawes dapat menghasilkan 10.000 telur saat pemijahan pertama. Pada pemijahan berikutnya, jumlah telur akan mengalami penurunan. Setelah 6 kali berpijah, induk tawes harus di afkir karena sudah tidak produktif lagi. Kolam pemijahan berukuran 200-400 m2 dapat di isi 15-20 pasang induk. Kolam pemijahan ini juga bisa difungsikan sebagai tempat penetesan dan pendederan.
(Santoso, B., dan Tata S., 2001)

Ada beberapa jenis ikan tawes, yaitu :
1. Tawes biasa.
Jenis ini paling sering ditemui dan dibudidayakan, berwarna putih keabu-abuan. Sering tertangkap diperairan umum seperti sungai, danau, dan waduk.
2. Tawes kumpay. 
Tawes ini mempunyai ciri yang specifik, yaitu adanya sirip dada dan sirip ekor yang panjang meliuk-liuk menyerupai selendang. Tawes ini bersisik kelabu. Saat ini jenis tawes kumpay sudah jarang ditemukan, baik di kolam budidaya maupun perairan umum.
3. Tawes silap. 
Tawes jenis ini mempunyai sisik mengkilap putih keabu-abuan. Tawes jenis ini juga sudah jarang ditemukan sehingga pantas disebut langka.
4. Tawes bule. 
Disebut tawes bule karena mempunyai sisik albino, tidak berpigmen. Warna sisik putih tidak berpigmen, Tawes bule termasuk jenis ikan yang langka.
Ikan tawes dapat dipelihara di daerah dengan ketinggian 50-800m dari permukaan laut (DPL). TUmbuh optimal pada ketinggian 50-500m dari permukaan laut (DPL). Ikan tawes dapat hidup di daerah dengan temperatur 20-33 derajat celcius.
Tawes menghendaki air yang selalu mengalir deras (30-50 cm/detik), cukup mengandung oksigen (5-7 ppm), dasar kolam tidak berlumpur.

Agar budi daya ikan tawes mendatangkan keuntungan yang optimal maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut:
a. Tempat budi daya
 Untuk budi daya pembesaran ikan tawes bisa menggunakan kolam air deras (KAD), karamba, maupun KJA. Pada budi daya dalam kolam air deras, hasilnya akan lebih baik bila kejernihan air terjaga, seperti didaerah pegunungan dengan suhu 20-33 derajat celcius. Ikan tawes juga bisa dipelihara dengan wadah karamba yang diletakan disungai atau saluran irigasi yang relatif jernih dan bebas dari limbah kimia berbahaya. Pada KJA, ikan tawes ditempatkan pada jaring apung bagian bawah (jaring kolor), sehingga dapat memanfaatkan sisa pakan dari budi daya ikan yang dipelihara di jaring atas.
Menurut penelitian Syandri, H.,2004, ikan tawes dan nilem yang di pelihara dengan sistem KJA di perairan Danau Maninjau, mempunyai allometrik positif (pertumbuhan berat tubuh lebih cepat daripada pertumbuhan panjang), tanpa memberi pakan buatan.
Di perairan Danau Maninjau yang sudah jenuh dengan bahan organik, plankton tumbuh sangat pekat, berwarna hijau. Ikan tawes dan nilem bisa tumbuh dengan baik dengan mengkonsumsi plankton: Ocillatoria, Mycrocystis, Spirullina, Nostoc. Hal ini menunjukan bahwa ikan tawes bersifat herbivora.
b. Benih
Saat ini benih ikan tawes yang dihasilkan oleh balai benih ikan (BBI) dan petani berasal dari indukan jenis lokal. Walaupun berasal dari jenis lokal, benih itu mempunyai kualitas yang baik untuk dibudidayakan.
Jumlah penebaran benih ikan tawes dengan bobot 20 gr/ekor yang dibudidayakan pada:
-Kolam Air Deras (KAD)            : 125 ekor/m3
-Karamba                                    : 100 ekor/m3
-Karamba Jaring Apung (KJA)     : 100 ekor/m3
c. Pengelolaan pakan
Pemberian pakan harus dilakukan dalam jumlah yang tepat. artinya, pakan yang diberikan tidak boleh berlebih ataupun kurang. Bila pakan berlebih maka akan mengakibatkan memburuknya kualitas air akibat sisa pakan. Kekurangan pakan pun akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat.
Di kolam budi daya, karamba atau KJA, ikan tawes bisa diberi daun tumbuhan lunak seperti daun singkong, labu siam, lumut, dedak halus, ampas tahu, atau pakan buatan.
d. Pengelolaan Kualitas Air
Untuk pemeliharaan ikan tawes di kolam air deras maupun karamba, kualitas air yang digunakan untuk budi daya harus bener-bener diperhatikan. Sedang untuk budi daya pada KJA, lokasi perairan yang digunakan untuk budi daya tidak boleh melebihi 1% dari total luas peraiaran waduk, danau, atau rawa.
e. Pencegahan Penyakit
Pada budi daya di kolam air deras,budi daya di karamba yang diletakan di sungai, dan budi daya di KJA, airnya selalu mengalir dengan baik sehingga resiko serangan penyakit relatif rendah. Walaupun demikian petani ikan harus tetap waspada terhadap limbah ataupun zat kimia beracunyang sewaktu-waktu dapat mengancam kehidupan ikan budi daya.

II. Ikan Nilem
Ikan nilem, Osteochilus hasselti, hidup di Asia yaitu China (mekong), Malaysia (Peninsula), Indonesia (Sungai-sungai di sumatra, kalimantan dan jawa).
Nama asing ikan nilem : Nilem carp, Silver sharkminnow, Java karpe.
Nama lokal : Nilem, Wader jawa. Sumatera : Pawes, Pala. Kalimantan : Payau, Pajan.
Ikan nilem berkekerabat dengan ikan mas maupun tawes, yaitu family Cyprinidae.
klasifikasi nilem secara lengkap adalah sebagai berikut:
-Fillum                              : Chordata
-Subfillum (Anak Fillum)    : Vertebrata
-Class (Kelas)                   : Pisces
-Sub Class (sub kelas)       : Actinopterygii
Inferior Class                     : Teleostei
Super order                      : Ostariophysi
Ordo (Bangsa)                  : Cypriniformes
Subordo (Anak Bangsa)    : Cyprinoidea
Famili (Suku)                     : Cyprinidae
Subfamili                           : Cyprininae
Genus (Marga)                  : Osteochillus
Species (Jenis)                   : Osteochllus Hasselti

Tubuh pipih memanjang, memiliki dua pasang sungut di kepala. Warna punggung coklat kehijauan, warna perut kemerahan. Sirip ekor, dubur, dan perut kemerahan. Ukuran tubuh maksimum dapat nencapai 35cm. Di habitat asli, ikan nilem hidup di sungai, danau dan rawa. Habitat yang paling disukai ikan ini adalah sungai berarus sedang dan berair jernih. Larva ikan yang baru menetas memakan plankton, alga bersel satu. setelah agak besar makan udang-udang kecil, daun air seperti ganggang Hydrilla sp, Uticularia sp.
Ikan nilem betina dapat dijadikan indukan saat usianya mencapai 1,5 sampai2 tahun. Postur tubuh indukan jantan lebih kecil. Bagian belakang kepala terlihat agak kasar. Bila diurut perutnya kearah bawah maka akan keluarkan cairan putih. Untuk pemijahan diperlukan sepasang indukan dalam satu kolam. Kolam pemijahan dibuat dari semen.
Menurut pembenih ikan nilem dari Bruno, purworejo, jawa tengah, waktu yang tepat untuk memijah adalah siang hari sekitar jam 12. Dasar kolam dari semen secara alami akan panas, pada saat tersebut dimasukan air ke dalam kolam.
Pada kolam pemijahan dipasang ijuk/kakaban, tempat menempelkan telur ikan. ijuk/kakaban diletakan 7cm dibawah permukaan air. setelah air kolam terisi, sepasang indukan di lepas, sambil terus mengalirkan air. Air yang hangat sangat disukai ikan untuk memijah. Keesokan harinya pada jam 5 pagi, indukan telah menempelkan telurnya. Satu indukan mampu bertelur 7000 butir. Telur yang menempel di ijuk harus diusahakan agar tidak saling menempel. telur-telur itu harus segera dipindahkan ke kolam penetasan. setelah menetas dan berusia 4hari, benih dibesarkan di kolam pembesaran benih. Indukan Nilem bisa bertelur 3 bulan sekali. setelah bertelur 6-8 kali, indukan harus diganti dengan yang baru.
Ikan nilem yang gampang dijumpai adalah nilem yang mempunyai sisik kehijauan. jenis ini yang sering dibudidayakan petani ikan di Bruno, purworejo. Konon di jawa barat pernah ditemukan nilem dengan sisik berwarna kemerahan. Ikan nilem baik dipelihara di daerah dengan ketinggian 150-1000 m DPL, namun idealnya pada ketinggian 800m DPL. menyukai air yang jernih dengan temperatur air 18-28 derajat celcius.
Budi daya ikan nilem hampir sama dengan budi daya ikan tawes, karena sama-sama herbivora yang menyukai air deras. ikan tawes dan nilem mempunyai kekerabatan, sama-sama masuk dalam family Cyprinidae.
Agar budi daya nilem mendatangkan keuntungan yang optimal maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut:
a.Tempat Budi Daya
Untuk budi daya pembesaran ikan nilem bisa menggunakan kolam air deras (KAD), karamba maupun KJA. Budi daya dengan kolam air deras lebih baik bila menggunakan air yang jernih seperti di daerah pegunungan dengan suhu 18-28 derajat celcius. ikan nilem juga bisa dipelihara di karamba. Sungai atau saluran irigasi yang digunakan untuk untuk meletakan karamba harus dipilih yang airnya relatif jernih dan bebas dari limbah kimia. Pada budi daya dengan KJA, ikan nilem dan tawes bisa ditempatkan pada jaring apung bagian bawah untuk memanfaatkan sisa pakan dari ikan yang dibudidayakan di jaring atas.
Ikan tawes dan nilem bisa tumbuh dengan baik dengan mengkonsumsi plankton: Ocillatoria, Mycricystis, Spirullina, Nostoc.
Menurut Syandri,H., 2004. diperairan Danau Maninjau yang jenuh dengan bahan organik sehingga plankton tumbuh subur, ikan tawes dan nilem tidak perlu lagi diberi pakan buatan.
b. Benih
Saat ini benih ikan nilem yang dihasilkan oleh balai benih ikan (BBI) dan petani benih berasal dari indukan jenis lokal. Walau begitu, benih yang dihasilkan sudah mempunyai kualitas yang baik untuk dibudi-dayakan.
Jumlah penebaran benih ikan nilem dengan bobot 3,5 gr/ekor (panjang 9cm) adalah:
-Kolam Air Deras (KAD)              : 125 ekor/m3
-Karamba                                      : 100 ekor/m3
-Kolam Jaring Apung (KJA)           : 100 ekor/m3
c. Pengelolaan Pakan 
Pakan harus diberikan dalam jumlah yang tepat, tidah boleh berlebihan maupun kurang. Pakan yang berlebih akan menurunkan kualitas air akibat sisa pakan, sedang kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan budidaya menjadi lambat.
Di kolam budi daya , karamba, atau KJA. ikan nilem dapat diberi pakan daun tumbuhan lunak seperti daun singkong, labu siam, lumut, dedak halus, ampas tahu,atau pakan buatan.
d. Pengelolaan Kualitas Air
Pemeliharaan ikan nilem di kolam air deras dan karamba harus memperhatikan kualitas air yang digunakan untuk budi daya. sedangkan untuk budi daya pada KJA, lokasi perairan yang digunakan untuk budi daya tidak boleh lebih dari 1% dari total luas perairan.
e. Pencegahan Penyakit
Pada budi daya di kolam air deras, budi daya di karamba yang diletakan disungai dan saluran irigasi, dan budi daya di KJA, air selalu mengalir dengan baik sehingga resiko terkena serangan penyakit relatif rendah. Walaupun demikian petani tetap harus waspada terhadap senyawa kimia beracun.





Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More