Postingan Terpopuler

Budidaya Ikan Bawal Agar Keuntungan Optimal

Ikan bawal, Colossama macropopum, Berasal dari Brasil. Di negeri asalnya, bawal disebut Tambaqui. Sebutan lainnya adalah Gamitama (Peru), Cachama (Venezuela), Red Bally Pacu yang berarti pada bagian perut terdapat warna merah (USA dan Inggris).

budidaya ikan bawal
Ikan Bawal dapat tumbuh dengan cepat. Dagingnya pun enak. Tak mengherankan bila ikan bawal akan menjadi pilihan budidaya ikan air tawar dimasa yang akan datang.

Ikan bawal masuk ke Indonesia melalui importir ikan hias dari Singapura dan Brasil. Ikan bawal air tawar memang bisa dijadikan ikan hias karena warnanya yang putih keperakan dan bagian bawah perutnya berwarna merah.

Fillum
Chordata
Sub fillum (Anak fillum)
Vertebrata
Klas
Pisces
Sub klas (Anak kelas)
Neopterigii
Super Ordo
Cypriniformes
Ordo
Cyprinoidea
Famili (Suku)
Characidae
Sub famili
Serrasalminae
Genus (Marga)
Colossoma
Species (Jenis)
Colossoma Macropomum

Bentuk tubuh ikan bawal adalah pipih. Dilihat dari samping, tubuhnya kelihatan agak bulat. Dengan bentuk tubuh seperti itu, ikan bawal termasuk kategori perenang lambat seperti gurami. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian bawah berwarna putih. Pda awal dewasa, bagian tepi sirip perut, sirip anus, dan bagian bawah sirip ekor berwarna merah. Warna merah ini merupakan ciri khusus ikan bawal sehingga ikan ini disebut Red Bally Pacu. Sisi ikan bawal berbentuk stenoid, setengah bagian sisik belakang menutupi sisik bagian depan.

Kepala ikan bawal tergolong kecil bila dibandingkan dengan badannya. Mulut terletak dibagian ujung kepala. Posisinya agak sedikit keatas. Matanya kecil dengan lingkaran berbentuk cincin. Rahang pendek dan kuat dengan gigi seri yang tajam. Ikan bawal mempunyai lima macam sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anus, dan sirip ekor. Sirip punggung dengan satu jari-jari agak keras tetapi tidak tajam, serta jari-jari lainnya lemah. (Arie U., 2000).

Habitat asli ikan bawal adalah sungai besar di Amerika selatan, yaitu di sungai amazon (Brasil) dan Sungai Oronico (Venezuela). Ikan bawal suka bergerombol diperairan yang deras. Meski begitu ditemukan pula diperairan yang tenang, terutama saat masih benih.

Ikan bawal tergolong ikan carnifora, pemakan daging, dengan gigi yang tajam. Pada fase larva, ikan bawal menyukai zooplankton seperti artemia sp, Brachionus sp, maupun Moina sp. Setelah agak besar ikan bawal makan cacing, detritus, serangga, udang-udangan, moluska dan tumbuh-tumbuhan air berdaun lunak. Ikan bawal lebih suka makan di bagian tengah perairan, bukan didasar perairan (Botom feeder) atau di permukaan (Surface Feeder).

Pada budidaya pembesaran ikan bawal bisa diberi pelet, ikan rucah, dan daging keong mas.

Di alam, ikan bawal memijah pada awal dan selama musim penghujan. Induk jantan berbadan langsing dengan warna merah lebih menyala, bergerak lebih lincah, dan bila diurut bagian perutnya akan keluar cairan berwarna putih. Tubuh induk betina lebih gemuk dengan perut gendut dan gerakannya lamban. Pada usia empat tahun ikan bawal betina sudah dapat menjadi indukan dengan berat tubuh 4 kg. Ikan jantan berumur tiga tahun, dengan berat 3 kg, sudah dapat digunakan sebagai pejantan. Induk betina seberat 4 kg dapat menghasilkan 500.000 telur.

Di alam, ikan yang sudah matang gonad akan mencari tempat yang cocok untuk memijah. Daerah yang disukai adalah hulu sungai. Saat musim hujan tiba, tempat yang tadinya kering akan tergenang air. aroma tanah kering yang tergenang air hujan mampu merangsang pemijahan ikan bawal. Saat pemijahan berlangsung, induk jantan bekerjaan dengan induk betina. Sesekali induk betina menempelkan perut di induk jantan. Pada saatnya induk jantan dan betina lebih gesit bergerak hingga betina mengeluarkan telur sementara yang jantan mengeluarkan spermanya. Dengan cara itu telur yang melayang-layang akan terbuahi.

Pada budidaya, pemijahan dapat dilakukan dengan metode Induced Spawning, yaitu dengan menyuntikkan hormon. Hormon yang dipakai untuk merangsang terjadinya telur adalah LHRH-a HCG (Human Choironic Gonadotropin), Hormon Ovaprim, dan PG (Pituary Gland) (Arie U., 2000).

TABEL STANDAR KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN BAWAL

PARAMETER KUALITAS AIR
STANDAR KUALITAS AIR
Suhu
25 - 30 ⁰C
pH
7 - 8
Oksigen Terlarut (DO)
>4 mg/lt
NH3
<0,02 ppm
Transparasi (Warna air Oleh Plankton)
20 – 40 cm
Karbondioksida (CO2)
<25 mg/l
Nitrit (NO2)
<0.05
Alkalinitas
50-500 mg/l
Kesadahan Total
>50 mg/l

Budidaya ikan bawal agar keuntungan optimal apabila dilakukan pengelolaan tempat budidaya, benih, kualitas air, pakan, dan pengendalian penyakit.

Berikut ini diuraikan kunci sukses pembesaran ikan bawal :
A. Tempat Budidaya. Budidaya ikan bawal lebih efektif jika dilakukan pada kolam air deras mengingat ikan bawal bisa hidup di sungai yang mengalir deras. Walaupun demikian bawal juga bisa dibudidayakan di kolam air tenang. Budidaya ikan di karamba dan jaring apung pun mampu mendatangkan keuntungan yang besar. Budidaya ikan bawal pada kolam air deras dapat dilakukan apabila di lokasi tersedia debit air yang lebih besar dari 20 liter/detik. Untuk mengukur debit air bisa dilakukan mengukur L (lebar) X T (tinggi) X P (panjang) saluran yang akan dijadikan sampel. Misalnya, lebar 30 cm, dan panjang saluran 10 m (diberi batas). dengan menggunakan stop watch, kita bisa mengukur kecepatan air di sepanjang saluran. Untuk itu kita perlu menggunakan bahan yang terapung. Bila hasilnya, misalkan 30 detik, maka debit airnya adalah 0,3 m X 0,3 m X 10 m/30 detik = 0,9 m3/30 detik = 900 lt/30 detik = 30 liter/detik. Ikan bawal bisa di pelihara di karamba yang diletakkan di sungai atau saluran irigasi. Lokasi yang digunakan untuk meletakkan karamba hendaknya di pilih yang airnya tidak tercemar limbah kimia.
B. Benih. Benih merupakan komponen yang sangat penting untuk diperhatikan dalam suatu budidaya, termasuk budidaya ikan bawal. Benih ikan bawal yang akan ditebar hendaknya di pilih yang berkualitas. Benih unggul diperoleh dari indukan unggul. Kriterian indukan unggul saat masih muda sudah berbadan besar dan sangat matang gonad (berumur 3 tahun), bobotnya minimal 3 kg.
menghitung benih ikan bawal 
Benih ikan bawal yang di tebar untuk pembesaran secara intensif adalah berukuran panjang 3,2 - 3,5 cm, berumur kurang lebih 45 hari. benih ikan bawal ukuran tersebut untuk bobot 400 - 500 gr membutuhkan waktu 5 - 6 bulan. Padat tebar menurut jenis wadah budidaya intensif adalah :
  • Kolam air deras (KAD) : 50 ekor/m3.
  • Karamba : 20 ekor/m3.
  • Karamba jaring apung (KJA) : 50 ekor/m3.

benih ikan bawal

Benih yang baik mempunyai ciri tubuh normal, pergerakan aktif dan lincah terhadap arus maupun rangsangan dari luar. Ukuran benih seragam.
C. Pengelolaan Pakan. Pemberian pakan harus dilakkan dengan jumlah yang tepat. Artinya, pakan yang diberikan tidak berlebih atau kurang. Pakan berlebih akan memperburuk kualiatas air karena sisa pakan, sementara kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Pakan ikan untuk budidaya ikan bawal bisa dibuat sendiri atau dengan membeli. Kandungan protein pakan yang diberikan untuk pembesaran minimal 25% dalam sehari jumlah pakan diberikan adalah 3 % dari berat total ikan aktual (biomass), yaitu berat rata-rata ikan X jumlah populasi dalam kolam. Pakan sejumlah itu dibagi menjadi tiga, yaitu untuk diberikan pagi, siang, dan malam. Misalnya berat rata-rata ikan 100 gram, populasi dalam kolam 10.000, berarti biomass dalam kolam 1.000 kg. Jumlah pakan perhari adalah 1,000 kg X 3 % = 30 kg. Dalam sehari pakan yang diberikan adalah 30 kg untuk tiga kali pemberian. Nafsu makan ikan dipengaruhi olehsuhu air. Pada pagi hari suhu air sekitar 22 ⁰C. Pada suhu ini nafsu makan ikan kurang baik. Oleh sebab itu jumalah pakan yang diberikan dikurangi untuk ditambahkan pada pemberian pada siang dan sore hari.
D. Pengelolaan Kualitas Air. Pada budidaya pada kolam air deras dan karamba,  kualitas iar yang digunakan untuk budidaya perlu diperhatikan. Apabila ada tanda bahwa kondisi berbahaya bagi ikan maka harus dilakukan tindakan penyelamatan.
E. Pencegahan Penyakit. Pada budidaya ikan bawal yang dilakukan di kolam air deras, karamba, atau karamba jaring apung, air terus berganti sehingga serangan penyakit cukup jarang terjadi. Namun demikian petani ikan harus tetap waspada akan kemungkinan serangan hama penyakit. Untuk mengantisipasi secara dini serangan penyakit, beberapa hal dapat dilakukan, yaitu :

  1. Untuk kolam air deras, sebelum kolam diisi air, lakukan pengeringan selama 14 hari dan sekaligus lakukan pengapuran.
  2. Jagalah sanitasi lingkungan.
  3. Lakukan penebaran benih dalam jumlah yang optimum, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.
  4. Pemberian pakan tidak boleh berlebih, tetapi juga jangan sampai kurang.
  5. Tangani ikan dengan baik agar tidak terjadi luka yang akan mungkin akan memicu terjadinya infeksi.
  6. Cegah masuknya binatang liar seperti burung, siput, ataupun kepiting yang mungkin dapat membawa penyakit.

produk produk perikanan nasa
Penambahan Pemberian Produk Nasa Akan Menambah Peningkatan Kesuksesan Budidaya Ikan Bawal.

PHONE : 081 225 9999 01
BBM : 2B11A003


Cara Pakai Viterna Serbuk

Viterna Serbuk sangat baik digunakan untuk penggemukan dan pembesaran : Ayam, Sapi, Kambing, Domba, Kelinci, Ikan, Udang dan ternak lainnya...

CARA PAKAI "VITERNA SERBUK"

TERNAK BESAR
TERNAK KECIL
Sapi, Kerbau, dll
Kambing, Domba, Kelinci, dll
5 - 10 gram / ekor / hari
Dicampukan air minum atau
Campuran pakan (Komboran)
Dosis 5 gram / ekor / hari
Dicampukan air minum atau
Campuran pakan (Komboran)
UNGGAS
PERIKANAN
Ayam, Itik, Puyuh, Burung, dll
Bandeng, Udang, Ikan Mas, Lele, Nila, Patin, Gurame dll
½ - 1 gr/liter air minum setiap hari
Pedaging : diberikan setiap hari
Petelur : diberikan 3 hari sekali
5 – 10 gram VITERNA + 1 liter
Air + 3 kg pakan ikan
Catatan : Kombinasi pemakaian VITERNA SERBUK akan lebih maksimal dipadukan dengan TANGGUH Probiotik atau POC NASA + HORMONIK

Hubungi Distributor VITERNA SERBUK Call / Sms : 081-225-9999-01
BBM 2B11A003.

brosur keterangan viterna serbuk
brosur viterna serbuk


Pengaruh Viterna Terhadap Pertumbuhan dan Kekebalan Tubuh Ternak

VITERNA adalah produk NASA yang merupakan suplemen pakan atau pakan pelengkap untuk ternak yang bersifat organik dan mudah tercerna dalam saluran pencernaan ternak.

viterna plus adalah vitamin ternak organik alami
VITERNA berasal dari bahan-bahan natural atau alami, sehingga tidak menimbulkan efek samping atau gangguan kesehatan bagi ternak yang mengkonsumsinya. VITERNA mengandung unsur-unsur nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh ternak, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Kandungan vitamin dan mineral pada VITERNA akan meningkatkan kerja dari sistem pencernaan pada tubuh ternak sehingga akan memacu pertumbuhan ternak secara maksimal. Vitamin dan mineral berperan dalam proses aktifitas metabolisme dalam sel dan menjaga keseimbangan asam-basa dalam tubuh, sehingga organ-organ tubuh dalam ternak akan bekerja aktif. Protein dalam VITERNA akan membantu dalam pembentukan dan perbaikan dan perbaikan sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh ini yang akan membentuk jaringan-jaringan tubuh, salah satunya adalah jaringan daging pada ternak. Hasil uji di lapangan telah menunjukkan bahwa penggunaan produk VITERNA telah meningkatkan kuantitas, kualitas dan kesehatan pada ternak (Data kesaksian dapat dilihat pada CD-CD kesaksian peternakan dan perikanan yang dikeluarkan oleh PT.Natural Nusantara, data berupa hasil uji laboratorium terlampir).

Secara umum manfaat dari penggunaan produk VITERNA pada ternak adalah :
  1. Memacu pertumbuhan pada ternak. Khusus ayam pedaging telah berhasil memperpendek waktu panen ayam dari waktu panen pemeliharaan standar dengan bobot yang sama, seperti rata-rata berat hidup ayam sebesar 2 kg dapat dicapai pada umur pemeliharaan 32-34 hari, yang pada umumnya biasanya dicapai pada umur 35-38 hari. Sehingga dapat menghemat pakan (Data lengkap dapat dilihat di CD kesaksian peternakan dan perikanan). FCR yang dihasilkan rata-rata mencapai 1,3 - 1,5. Pada usaha penggemukan sapi lokal seperti sapi bali dan peranakan ongole, rata-rata ADG (Average Daily Gain) atau pertambahan berat badan harian adalah 0,5-0,7 kg. Sedangkan sapi crossing simmental dan limousin rata-rata ADGnya mencapai 1,5-1,7 kg.
  2. Menekan angka kematian. Pengujian dan penerapan di berbagai peternakan yang telah menggunakan produk-produk Nasa, angka kematian rata-rata dibawah 5%.
  3. Meningkatkan kualiatas daging ternak. Hasil uji laboratorium dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM menunjukkan bahwa ayam yang telah menggunakan produk Nasa memiliki kandungan protein yang tinggi dan kandungan kolesterolnya rendah (Data terlampir).
  4. Mengurangi bau kotoran dari ternak.
  5. Meningkatkan produksi telur pada ayam atau unggas petelur (Data dapat dilihat di CD kesaksian peternakan ayam petelur atau unggas petelur).
  6. Meningkatkan kualitas susu pada usaha sapi perah, seperti : jumlah liter susu hariannya, nilai Solid Non Fat (SNF) sebesar 8,5-9 %, yang biasanya hanya sebesar 3,5% dan nilai Total Solid (TS) sebesar 12,1%. (Data dapat dilihat di CD kesaksian peternakan sapi perah).
Untuk mendapatkan VITERNA PLUS sangat mudah, hubungi 081-225-9999-01 (Call & SMS), Pin BBM 2B11A003


Budidaya Ikan Patin Pangasius Djambal

Ikan Patin (Pangasius djambal, P. hypophthalmus) merupakan salah satu jenis lele-lelean yang banyak dibudidayakan selain ikan lele. Produksi Asia Tenggara tahun 2001 mencapai 250.000 ton. Ikan patin yang banyak di budidayakan adalah species Pangasius hypophthalmus yang didatangkan dari Thailand.

budidaya ikan patin dengan produk viterna

Setelah dilakukan penelitian melalui kerjasama dengan Deplu Perancis (Institute de Recherche pour le Development, IRD) ditemukan species patin unggul asli indonesia, yaitu Pangasius djambal. Patin jenis ini hidup di sungai-sungai besar di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Pangasius djambal mempunyai nilai ekonomi yang tinggi karena ukuran maksimumnya lebih dari 1 meter. Daging patin ini berwarna putih sehingga lebih disukai daripada daging Pangasius hypophthalmus yang berwarna kuning. Daging ikan patin jenis Pangasius djambal disukai tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar Asia, Eropa, dan Amerika Utara (Komarudin, O., et.al., 2005).

Ikan patin hidup di sungai-sungai besar di Sumatera (Way Rarem, Musi, Batanghari, dan Indragiri), Jawa (Brantas dan Bengawan Solo), dan Kalimantan (Kayan, Berau, Mahakam, Barito, Kahayan dan Kapuas). Selain di sungai-sungai besar, patin juga terdapat di waduk-waduk. Menurut Gustiano (2003), di Indonesia terdapat 13 species patin yang terbagi dalam 3 genus. Bila ditambah dengan Pangasius hypophthalmus yang berasal dari Thailand, berarti ada 14 species patin, terbagi dalam 4 genus.

keaneka ragaman species keluarga ikan patin tersebar secara tidak merata di setiap sungai utama dengan tingkat keanekaragaman spesies yang besar di Sumatera. Sedangkan di Kalimantan terjadi tingkat endemitas yang tinggi. Spesies ikan disebut endemik apabila penyebaran alaminya terbatas pada satu sistem badan air. Contohnya, Pangasius reophillus di Sungai Kayan dan Sungai Berau (Gustiano, R., et al., 2005)

Berdasarkan ilmu taksonomi, ikan patin mempunyai ordo (bangsa), dan subordo (subbangsa) yang sma dengan ikan lele.

Klasifikasi ikan patin secara lengkap adalah sebagai berikut :
Fillum : Chordata
Subfillum (Anak Fillum) : Vertebrata
Klas : Pisces
Subklas (Anak Kelas) : Actinopterygii
Infra Class : Teleostei
Super Ordo (Bangsa) : Ostariophysi
Ordo : Siluriformes
Subordo (Anak Bangsa) : Siluroide
Famili (Suku) : Pangasidae
Genus (Marga) : Pangasius
Spesies (Jenis) : Pangasius djambal

Ikan patin mempunyai bentuk tubuh yang memanjang, tidak bersisik dan bertubuh licin. Warnatubuh putih keperakan dan berkilau. Pada waktu muda, warna putih keperakan sangat mencolok, tetapi setelah dewasa akan menjadi agak pudar.

Kepala patin relatif kecil, dengan mulut yang terletak di ujung kepala sebelah bawah. pada sisi mulutnya terdapat sungut berjumlah 2 pasang. Sungut berfungsi sebagai peraba saat berenang. patin memiliki patil pada sirip punggung dan sirip dada. Sirip duburnya panjang, dimulai dari belakang dubur hingga pangkal sirip ekor (Anonim : Balai Pengembangan Budi Daya Perikanan Air Tawar, 2005).

Ikan patin lebih banyak menetap di dasar perairan dibanding di permukaan. Patin memang ikan dasar (demersal). Hal ini dapat dilihat dari bentuk mulutnya yang melebar sebagaimana mulut ikan-ikan demersal. Di sengai tempat asalnya, patin selalu bersembunyi di dalam liang di tepi sungai. Keluar dari liang persembunyian setelah hari gelap. Ikan patin bersifat nokturnal, aktif pada malam hari (Anonim : Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar, 2005).

Larva patin makan pakan alami yang berupa binatang renik seperti kutu air dari golongan Daphnia, Cladocera dan Copepoda. Selain itu juga makan berbagai jenis cacing, larva, jentik nyamuk, siput kecil, dan udang-udangan kecil. Ikan patin memijah sepanjang musim penghujan (November - Maret). Pada akhir musim penghujan benih ikan patin biasa bergerombol di permukaan air sungai, terutama saat menjelang subuh.

Pada budidaya pembenihan, ikan patin tidak bisa berproduksi secara spontan seperti pada kebanyakan species ikan. Produksi bibit ikan dimungkinkan melalui pemberian hormonik yang merangsang ovulasi dan kemudian diikuti dengan pembuahan buatan.

Di Indonesia terdapat banyak jenis ikan patin lokal asli Indonesia. Menurut Gustiano (2005), di Indonesia terdapat 13 spesies lokal yang terbagi dlam 5 genus (marga), dan 1 spesies introduksi dari Thailand. Dari sekian spesies lokal yang sangat prospektif untuk dikembangkan adalah Pangasius djambal.

a. Genus Pangasius Valenciennes, 1840, terdiri dari 10 species. Semua species lokal mempunyai 6 sirip perut dan moncong bagian depan yang kuat. Lubang pencium bagian belakang dekat dengan bagian depan dan di atas lubang pencium bagian depan dan lingkaran.

  1. Pangasius lithosoma, Robert, 1989. Bersifat endemis di sungai kapuas kalimantan barat, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  2. Pangasius humeralis, Robert, 1989. Bersifat endemis di sungai kapuas, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  3. Pangasius nieuwenhuisii, Popta, 1904. Disebut ikan lawang, bersifat endemis di sungai mahakam, Kalimantan Timur, mempunyai ciri gigi vomerine tanpa perpanjangan sisi.
  4. Pangasius makronema, Bleeker, 1851. Tersebar di Sungai Kahayan. Dikenal dengan nama lokal ikan rios, riu, lacing. Cirinya, mempunyai gigi vomerin dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas 100,5 - 203,9 % dari panjang kepala.
  5. Pangasius polyuranodon, Bleeker, 1852. Tersebar luas di Sungai Barito, Brantas, Bengawan Solo, Batanghari, Indragiri, Way Rarem. Nama lokalnya adalah ikan juaro. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas kurang dari 100,5 panjang kepala. Panjang pedrosal (jarak dari ujung mulut sampai duri keras sirip punggung pertama) 25,1 - 31,2 % panjang standar.
  6. Pangasius mahakamensi, pouyaud, Gustiano, Teugels, 2002. Bersifat endemis di sungai mahakam, KalimantanTimur. cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Panjang sungut rahang atas kurang dari 100,5 panjang kepala. Panjang pedrosal 30,1-32,7 % dari panjang setandar.
  7. Pangasius kunyit, Pouyoud, teugels, dan Legendre,1999. Tersebut luas disungai Musi, Batanghari, Indragiri, Barito, Kahayan, Kapuas. Nama lokasinya :patin kunyit. Cirinya, mempunyayi gigi vomerine dengan perpanjang sisi. jarak dari ujung mulut ke isthmus ( celah pada hulu kerongkongan ) yang pendek.
  8. Pangasius rheohilus, pouyoud dan teuglels, 2000. Bersifat endemis di sungaikayan dan sungai bereu, Kalimantan timur. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi. Lebar sirip Keras punggung antara 4,7-6,2 %panjang kepala.
  9. Pangasius nasutus, Bleeker, 1846. Tersebar luas di sungai Brantas, Bengawan solo Barito dan kahayan.Disebut sebagai ikan pedado. Cirinya, mempunyai gigi vomirine dengan perpanjang sisi, mempunyai 16-24 tapis insang pada lengkung insang pertama.
  10. Pangasius djambal.Bleeker, 1846. Tersebar luas disungai Way Rarem, Musi, Brantas, Bengawan solo, Barito, Kahayan. Cirinya, mempunyai gigi vomerine dengan perpanjangan sisi, mempunyai 27-39 lapis insang pada lengkung insang pertama.
b. Genus Pteropangasius Fowler, 1937, terdiri dari satu sepesies.mempunyai 6 sirip perut, moncong 
bagian depan kuat. Lubang pencium bagian belakang dekat dengan bagian depan dan di atas lubang pencium bagian depan dan lingkaran.
c. Pangasius micronemus Bleeker, 1947. Nama lokal: ikan wakal, rius caring . mempunyai mata relatif besar, sungut rahang atas pendek, sirip pungung dandada relatif kecil.
d. Genus Helicophagus wleeker, 1858. Ada dua sepesies: ikan dengan dua sirip perut dan moncong ramping. Lubang pencium bagian belakang terletak antara lubang pencium depan dan oriba ( ronga tempat bola mata ).

  1. Helicophagus typus, Bleeker, 1858. Tersebar luas di sungai Musi, Batanghari, Indragiri, Barito, kahayan, Kapuas.
  2. Helicophagus Waandersii, Bleeker, 1858. Tersebar luas di sungai Musi batanghari Indragiri.
e. Genus Pangasianodon Chevery, 1930, di intoduksi dari thailand untuk kepentingan akualakutur.
f. Pangasius hypopthalmus. merupakan sepesies ikan menyebar di sentra budi daya ikan patin. Cirinya, mempunyai 6-8 sirip perut, ukuran pedrosal yang panjang, sirip keras, punggung membulat.
(Gustiano R., et al, 2005)

TABEL STANDAR KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN PATIN
Parameter Kualitas Air
Standar Kualitas Air
Suhu
28 – 32 °C
pH
6 - 7
Oksigen Terlarut (DO)
4,5 – 6,5 mg/lt
NH3
< 0,05 ppm
Transparansi
40 – 60 cm
Karbondioksida (CO2)
9 – 20 ppm
Nitrit ( NO2 )
< 0,05 ppm
Alkalinitas
> 20 mg/lt
Kesadahan Total
> 20 mg/lt
(Anonim, Balai Pengembangan Budi Daya Air Tawar, 2005).
Agar budidaya ikan patin mendatangkan keuntungan yang optimal, maka harus dilakukan pengelolaan tempat budidaya, benih, kualitas air, pakan, dan pengendalian penyakit.

Berikut ini diuraikan kunci sukses pembesaran ikan patin:
a. Tempat Budidaya. Budidaya ikan patin lebih efektif jika dilakukan pada kolam air deras, walau juga bisa dibudidayakan di kolam air tenang. Budidaya pada ikan air deras bisa dilakukan apabila suatu lokasi mempunyai debit air >20 liter/detik. Ikan patin juga bisa dipelihara di karamba yang diletakkan di sungai atau saluran irigasi. Lokasi yang digunakan untuk meletakkan karamba harus di pilih yang tidak tercemar limbah kimia berbahaya.
b. Benih. Benih merupakan komponen yang sangat penting untuk diperhatikan dalam suatu budidaya, termasuk budidaya ikan patin. Benih ikan patin yang ditebar untuk pembesaran secara intensif adalah yang berukuran 20 gr. Benih patin ukuran tersebut untuk dapat dipanen dengan bobot 200 gr membutuhkan waktu 2,5 bulan. Bila dipanen dengan bobot 400 - 500 gr maka membutuhkan waktu 5 bulan.
Padat tebar benih ikan dengan berat 20 gram, menurut jenis wadah budidaya secara intensif adalah : 
  • Kolam Air Deras ( KAD ) : 50 ekor/meter kubik (m3).
  • Karamba : 25 ekor/m3.
  • Karamba Jaring Apung ( KJA ) : 50 ekor/m3.
Benih yang baik mempunyai kriteria tubuh normal, pergerakan aktif dan lincah melawan arus ataupun terhadap rangsangan dari luar, serta berukuran seragam.
c. Pengelolaan Pakan. Pemberian pakan harus dalam jumlah yang tepat, tidak berlebih maupun kurang. Pakan yang berlebih akan menurunkan kualitas air karena pembusukan sisa pakan, sedangkan kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan budidaya menjadi lambat. pakan ikan yang diberikan pada ikan patin bisa dibuat sendiri atau dengan membeli. Kandungan protein minimal adalah 25%. Dalam sehari jumlah pakan yang diberikan 3% dari berat total ikan aktual berdasarkan biomass. Jumlah tersebut dibagi menjadi tiga untuk diberikan pada pagi hari, siang hari dan malam hari. Misalnya berat rata-rata ikan 100 gr, populasi dalam kolam 10.000. Berarti biomass dalam kolam 1.000 kg. Jumlah pakan per hari adalah 1.000 kg  x 3% : 30 kg. Dalam sehari pakan yang diberikan adalah 30 kg, diberikan 3 kali, masing-masing sekitar 10 kg. Nafsu makan ikan dipengaruhi suhu air. Pada pagi nafsu makan ikan kurang baik. Oleh karena itu jumlah pakan yang diberikan di pagi hari dikurangi untuk diberikan pada siang hari dan sore hari.
d. Pengelolaan Kualitas Air. Budidaya pada kolam air deras dan karamba perlu selalu memperhatikan kualitas iar yang digunakan untuk budidaya. Apabila kondisi air berbahaya bagi kehidupan ikan maka harus dilakukan tindakan penyelamatan. Pemakaian KJA untuk budidaya perlu memperhatikan lokasi perairan. Bila sudah melebihi 1% dari total luas perairan, KJA sebaiknya tidak digunakan.
e. Pencegahan Penyakit. Budidaya ikan patin yang dilakukan di kolam air deras, karamba, atau karamba jaring apung, airnya terus berganti sehingga serangan penyakit relatif jarang terjadi. Untuk mengantisipasi agar hama penyakit tidak menyerang :

  1. Untuk kolam air deras, sebelum diisi air, awali dengan pengeringan kolam selama 14 hari. Dasar kolam diberi kapur.
  2. Jaga sanitasi lingkungan.
  3. Penebaran benih ikan dalam jumlah optimum, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit.
  4. Pemberian pakan tidak berkurang.
  5. Hindari masuknya binatang lain seperti burung, siput, kepiting, yang bisa membawa penyakit.


Budidaya Pembesaran Ikan Mas

Ada beberapa nama sebagai sebutan akrab ikan mas (Cyprinus carpio). Dalam bahasa inggris dikenal sebagai  Common carp. Di sumatera disebut ikan roya atau ikan ameh. Di jawa disebut tombro dan ikan mas-masan.

Ikan mas berasal dari Cina dan Rusia. Di Indonesia, mulai masuk ke ciamis (Galuh), Jawa Barat, pada tahun 1810, dan mulai berkembang tahun 1860. Selanjutnya ikan mas masuk sumatera, yaitu di Bukittinggi, berkembang tahun 1903, di Padang Sidempuan tahun 1903, di Medan 1905. Selain di Sumatera, ikan mas juga dikembangkan di Sulawesi, yaitu di Tondano pada tahun 1895, di Manado 1905 dan di sulawesi Selatan mulai tahun 1936. Di Bali dan Flores ikan mas mulai dikembangkan pada tahun 1932.

Penyebaran ikan mas sudah sangat lamadan meluas di berbagai daerah Indonesia karena pembudi-dayaannya cukup mudah. Ikan mas dapat beradaptasi dengan baik di berbagai lingkungan.

Untuk memudahkan identifikasi dan melihat kekerabatan ikan mas dengan ikan lain telah dilakukan klasifikasi berdasarkan ilmu taksonomi. Klasifikasi ikan mas secara lengkap adalah sebagai berikut :

Fillum    : Chordata
Subfillum (Anak Fillum)    : Vertebrata
Class (Kelas)    : Pisces
Subclass (Anak Kelas)    : Actinopterygii
Infra Class    : Teleostei
Super Ordo    : Ostariophysi
Ordo (Bangsa)    : Cypriniformes
Subordo (Anak Bangsa)    : Cyprinoidea
Famili (Suku)    : Cyprinidae
Subfamili (SubSuku)    : Cyprininae
Genus (Marga)    : Cyprinus
Spesies (Jenis)    : Cyprinus carpio L.

Tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan (protaktil). Pada bagian interior mulut terdapat dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang berbentuk tiga baris gigi geraham.

Secara umum selurtuh tubuh ikan mas ditutupi sisik. Namun demikian ada pula varietas yang hanya memiliki sedikit sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam sisik type sikloid (lingkaran).

Sirip punggung (dorsal) memanjang, pada bagian belakang berjari keras, dan di bagian akhir, yakni sirip ketiga dan keempat, bergigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventol). Sirip dubur (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yakni berjari keras dan bagian akhir bergigi.

Garis rusuk (linea laterais: gurat sisi) pada ikan mas tergolong lengkap, berada di pertengahan tubuh, melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangakl ekor.

Habitat ikan mas adalah perairan air tawar yang airnya tidak terlalu dalam dengan aliran yang tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas termasuk golongan ikan omnivora, yaitu ikan pemakan berbagai jenis pakan dari tumbuhan maupun binatang renik. Makanan utamanya adalah binatang dan tumbuhan yang berada di dasar dan tepian perairan.

Di alam ikan mas memijah pada awal musim hujan. Secara alamai pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Namun di kolam budidaya, ikan mas dapat dipijahkan sepanjang tahun dan tidak tergantung musim. Telur ikan mas menempel pada substrat tanaman air dan rerumputan yang menutup permukaan. Telur ikan ini berbentuk bulat, bening dengan diameter 1,5-1,8 mm dan berbobot 0,17-0,2 mg. Larva ikan mas mempunyai kantong kuning telur sebagai cadangan makanan yang akan habis 2-4 hari setelah telur menetas. Larva menjadi kebul setelah 4-5 hari. Pakan alami kebul yaitu zooplankton, sperti rotifera, moina, daphnia. Pada umur 2-3 minggu, kebul akan menjadi burayak berukuran 1-3 cm, dengan bobot 0,1-0,5 gram. Umur 5-6 minggu burayak tumbuh menjadi putihan yang berukuran panjang 3-5 cm dan bobot 0,5-2,5 gram. Setelah berumur 3 bulan, burayak akan menjadi gelondongan yang mempunyai bobot sekitar 100 gr/ekor.

Jenis-jenis ikan mas yang sering dibudidayakan dengan tujuan konsumsi adalah :
a. Ras Majalaya. Ras ini berkembang pertama kali di Majalaya, Bandung, Jawa Barat. Badannya berukuran relatif lebih pendek dengan punggung lebih tinggi dan lancip dibanding ikan mas lainnya. Perbandingan panjang dan tinggi adalah 3,2:1. Punggung membungkuk pada batas antara kepala dan punggung. Warna sisik hijau keabuan dengan tepi lebih gelap. Sisik dibagian bawah insan dan bagian bawah sirip ekor berwarna kekuningan. semakin kearah punggung, warna sisik akan semakin gelap. Ikan mas majalaya relatif lebih jinak dan biasa berenang dipermukaan. Ikan mas ini unggul dalam pertumbuhannya yang relatif cepat dan tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophilla. Ikan mas Majalaya telah dilepas oleh Menteri Pertanian pada tahun 1999 dalam rangka HUT Badan Litbang Pertanian ke-25.
b. Ras Punten. Ikan ras Punten telah dikembangkan sejak 1933 di Desa Punten, Malang, Jawa Timur. Badannya pendek dan bagian punggung relatif lebar dan tinggi sehingga terkesan membuntak (big belly). Perbandingan panjang total dan tinggi yaitu 2,3-2,4:1. Jadi ikan mas ras Punten terkesan lebih pendek. Warna ikan mas Punten adalah hijau gelap. Mata agak menonjol dan gerakannya lambat dan jinak.
c. Ras Putri Jogja atau Si Nyonya. Dikatakan ras si nyonya karena mudah bertelur. Badan ikan ras si nyonya relatif panjang dengan punggung yang relatif rendah dibanding ras punten maupun majalaya. Perbandingan panjang dan tinggi badan ikan adalah 3,6:1. Sisik ikan berwarna kuning muda (jeruk sitrun). Pada ikan yang masih muda, mata agak menonjol dan menjadi sipit bila telah dewasa. Ikan ras si nyonya lebih jinak dibanding ras punten, suka berkumpul dipermukaan air. Jumlah telur (fekuditas) ikan mas si nyonya 114.000-135.000 dengan diameter telur 0,3-1,5 mm.
d. Ras Merah. Bentuk badannya relatif panjang. Dibanding ras si nyonya, penampang badan bagian punggung relatif lebih rendah dan tidak lancip. Matanya agak menojol. Ciri yang mencolok adalah warna sisiknya yang merah keemasan. Gerakannya aktif, tidak jinak, dan suka mengaduk-aduk dasar kolam.
e. Ras Taiwan. Bentuk badan ikan mas ras Taiwan relatif panjang dengan penampang punggung berbentuk busur agak membulat. Sisik berwarna hijau kekuningan sampai kuning kemerahan ditepi sirip dubur dan dibawah sirip ekor. Ikan ini responsif, saling berebut makanan yang terapung.
(Anonim : Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar / BPBPAT, 2005)

Ikan mas dapat tumbuh normal bila dipelihara pada lokasi dengan ketinggian 150-1000 m diatas permukaan laut (dpl).

TABEL STANDAR KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN MAS
Parameter Kualitas Air
Standar Kualitas Air
Suhu
20 – 25 °C
Ph
7 – 8
Oksigen Terlarut (DO)
> 5 mg/lt
NH3
<0.02 mg/lt
Kekeruhan
40 – 60 cm
Karbondioksida (CO2)
2 – 11 mg/lt
Nitrit (NO2)
<0.05 ppm
Alkalinitas
> 20 mg/lt
Kesadahan Total
> 20 mg/lt

Ikan mas bersifat herbivora, menyukai air yang jernih dan mengalir. Ikan ini masih satu famili dengan ikan tawes dan nilem, yaitu dalam famili Cyprinidae. Ikan mas tidak memiliki alat pernafasan yang berupa labirynth sebagaimana yang terdapat pada ikan lele maupun gurami sehingga tidak tahan hidup di air dengan kadar oksigen rendah.

Agar budidaya ikan mas mendatangkan keuntungan yang optimal, perlu diperhatikan hal berikut :
a. Tempat budidaya. Budidaya pembesaran ikan mas bisa dilakukan dengan menggunakan kolam air deras (KAD), karamba, maupun karamba jaring apung (KAJ). Budidaya pada kolam air deras akan lebih baik bila kondisi airnya jernih seperti di daerah pegunungan dan memiliki suhu 20-25 °C. Ikan mas juga bisa dipelihara di karamba. Air sungai ataupun aliran irigasi yang digunakan untuk meletakkan karamba yang dipilih untuk meletakkannya harus jernih dan tidak tercemar limbah kimia. Budidaya dengan karamba jaring apung harus memperhatikan kapasitas / daya dukung perairan. Bila total area untuk budidaya sudah melebihi  1% waduk ataupun danau tersebut sudsh tidak memadai untuk digunakan sebagai tempat budidaya.
b. Benih. Masing-masing daerah mempunyai kesenangan yang berbeda terkait dengan jenis ikan yang akan dibudidayakan. Yang banyak dibudidayakan di Bogor, Sukabumi, Bandung Garut, Tasikmalaya adalah jenis ikan mas Majalaya. Sedang petani Yogyakarta menyukai jenis si nyonya. Untuk daerah malang dan sekitarnya, petani ikan menyukai jenis punten. Pada tahung 1999 jenis ikan mas majalaya sudah ditetapkan sebagai jenis unggul melalui SK Menteri Pertanian.
Jumlah penebaran benih ikan mas dengan bobot 25 gr/ekor yang dibudidayakan pada : 
Kolam Air Deras (KAD) adalah 100 ekor/m3.
Karamba adalah 50 ekor/m3.
Karamba Jaring Apung adalah 50 ekor/m3.
c. Pengelolaan Pakan. Pemberian pakan ikan mas harus dilakukan dalam jumlah yang tepat. Pakan yang diberikan tidak boleh berlebihan ataupun kurang. Pakan yang berlebih akan mengakibatkan memburuknya kualitas air akibat sisa paka, sedang kekurangan pakan akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Pemeliharaan ikan di kolam air deras harus menggunakan pakan yang berkualitas karena air kolam miskin makanan alami. Pakan yang baik untuk ikan mas adalah yang mengandung protein 25%. Dalam sehari jumlah pakan yang diberikan adalah 3,5% dari berat total ikan aktual (biomass). Jumlah pakan tersebut dibagi menjadi tiga, diberikan pagi, siang dan malam hari. Untuk mengetahui berat ikan aktual (biomass) dilakukan dengan sampling berat rata-rata ikan (Mean Body Weight,MBW). Biomass ikan adalah MBW dikalikan taksiran populasi ikan yang masih hidup.
d. Pengelolaan Kualitas Air. Pemeliharaan ikan mas di kolam air deras dan karamba perlu memperhatikan kualitas air yang digunakan untuk budidaya. Untuk budidaya pada KJA perlu dilihat apakah area KJA pada lokasi perairan yang digunakan untuk budidaya sudah lebih dari 1% total luas perairan. Bila persentase luas permukaan untuk budidaya melebihi 1% maka penambahan KJA akan mengakibatkan semakin menurunnya kualitas air. Sisa pakan dan kotoran akan menumpuk didasar air, meningkatkan kadar amonia, fluktuasi pH, dan semakin pekatnya plankton. Kondisis tersebut dapat mengakibatkan terjadinya umbalan (Up Welling), yang mana bahan sisa yang ada di dasar kolam naik ke eprmukaan. Umbalan akan mengakibatkan kematian iakan budidaya karena keracunan amonia dan kandungan oksigen pada air yang terlalu rendah.
Umbalan biasa terjadi sehabis hujan lebat yang mengakibatkan suhu dipermukaan air menjadi dingin. Air dan bahan orgsanik yang ada di dasar perairan, yang suhunya lebih hangat, akan naik karena memiliki berat jenis (BJ) yang lebih ringan. Pada tahun 1997 terjadi kematian massal ikan budi daya di Danau Maninjau (Luas : 9.950 Ha). Ditaksir ada 950 Ton Ikan yang mati pada saat itu. Nilainya mencapai 2,7 miliar. Pergerakan massa air dari dasar ke permukaan dengan membawa bahan organik beracun juga sering terjadi di Waduk Cirata (7.900 Ha). Hal ini disebabkan oleh daya dukung perairan yang melemah akibat terlalu banyaknya Karamba Jaring Apung (KJA).
e. Pencegahan Penyakit. Pada budidaya di kolam deras, budidaya di karamba yang diletakkan di sungai, dan budidaya di KJA, airnya selalu mengalir dengan baik sehingga resiko serangan penyakit relatif rendah. Walaupun demikian petani harus tetap waspada.


VITERNA SERBUK

Nantikan kehadiran VITERNA SERBUK sebuah inovasi dari kami untuk kemajuan peternak dan mudah untuk diaplikasi serta mudah dalam pengiriman ke dalam dan luar pulau... VITERNA SERBUK Inovasi Kemajuan Keberhasilan Peternakan & Perikanan Tiada Henti. HUBUNGI 081-225-9999-01 BlackBerry 2B11A003.

viterna plus organik serbuk
VITERNA SERBUK
Harga VITERNA SERBUK isi 10 Sachet/Box Netto 25 Gram/Sachet :

  • Wilayah Jawa Rp.125.000,-
  • Wilayah I Rp.130.000,- (Lampung, Bali, Ujung Pandang, Palangkaraya, Banjarmasin, Balikpapan, Bengkulu, Palembang, NTB, Amuntai, Tanah Bumbu)
  • Wilayah II Rp.135.000,- (Kendari, Pontianak, Pekanbaru, Jambi, Padang, NTT, Medan, Bontang, Muara Teweh, Tarutung, Perawang, Tanah Grogot, Konawe, Kuala Kapuas, Pangkal Pinang)
  • Wilayah III Rp.140.000,- (Palu, Toli-Toli, Manado, Banda Aceh, Ketapang, Kutai Barat, Berau, Sanggau, Tarakan, Sintang, Batam)
  • Wilayah IV Rp.150.000,- (Jayapura, Manokwari, Sorong, Merauke, Maluku Utara).
Hubungi Distributor Resmi VITERNA-SERBUK Call/Sms 081225999901 BBM 2B11A003.


Mengenal Tangguh Probiotik Peternakan

TANGGUH PROBIOTIK pasukan khusus / KOPASSUS teman peternak dan pembudidaya ikan...

Semakin majunya bio teknologi di dunia akhir-akhir ini banyak sisi positif yang bisa dimanfaatkan untuk membantu kehidupan manusia dan lingkunganya. Sebagian komponen pemanfaatan biotek adalah dengan menggunakan mikroorganisme (jasad renik) dalam membantu segala proses di sekitar kehidupan manusia maupun lingkungan. Seiring dengan kemajuan itu, research and development (R&D) PT. Nasa menghadirkan produk hasil pengembangan bioteknologi yang berbasis mikroorganisme / mikrobia, yaitu TANGGUH yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan indonesia di sektor agrokomplek.

Mengacu pemanfaatanya dan kebutuhanya tersebut, maka PT. NASA menghadirkan produk ini dengan merk TANGGUH Probiotik (Probiotik).


TANGGUH PROBIOTIK
Istilah probiotik berlaku bagi mikroorganisme yang memberi kebaikan jika ditambahkan kedalam lingkungan tertentu, baik lingkungan yang berada didalam tubuh makluk hidup maupun lingkungan diluar makluk hidup seperti di lingkungan perairan (Aquaculture). Probiotik ini akan menciptakan kondisi yang kondusif dan nyaman bagi kehidupan disekitarnya jika ditambahkan kedalamnya. Sehingga dengan demikian inang dan habitat yang ditumpangi akan semakin sehat dan kondusif bagi berlangsungnya kehidupan didalamnya.

1. TANGGUH PROBIOTIK UNTUK PENCERNAKAN TERNAK DAN IKAN
TANGGUH Probiotik mengandung beberapa jenis mikrobia yang mempunyai peranan penting dalam ekosistem usus ternak dan ikan. Penambahan mikrobia baik (Good Microbia) dalam TANGGUH Preobiotik akan menjaga keseimbangan ekosistem dalam pencernakan atau usus ternak dan ikan, sekaligus akan mengeliminir pertumbuhan mikrobia maupun mikroflora yang bersifat patogenik atau merugikan dalam pencernakan ternak dan ikan. TANGGUH Probiotik ini akan membantu efektifitas VITERNA didalam menyuplai mineral, vitamin dan nutrisi di dalam sistem pencernaan ternak, ikan dan udang.
Mekanisme membuat kondisi tidak nyaman dan penghambatan pertumbuhan mikrobia jelek atau patogenik di dalam sistem pencernaan adalah dengan :

  1. Dihasilkanya metabolik dalam bentuk senyawa senyawa antimikrobia misalnya nisin, Lactocidin, hidrogen peroksida dan senyawa anti mikrobia lain.
  2. Kompetisi dalam menyerap nutrisi esensial, karena sekresi senyawa antimikrobia diatas membuat mikrobia yang merugikan terhambat dan kalah dalam kompetisi ini.
  3. Kemampuan beberapa jenis mikrobia dalam TANGGUH Probiotik untuk hidup dalam suasana masam, hal ini didukung dengan kemampuan beberapa mikrobia seperti Lactobacillus, streptococcus sp, Lactococcus sp,. Didalam TANGGUH probiotik yang menghasilkan metabolit yang sifatnya masam, kondisi ini menyebabkan beberapa mikrobia patogen terhambat pertumbuhan dan mati.
  4. Penguasaan permukaan dinding usus untuk menempel mikrobia TANGGUH probiotik yang membuat mikrobia yang merugikan tidak mendapat media untuk hidup.
Sedangkan fungsi lain TANGGUH Probiotik bagi ternak atau ikan adalah :

  1. Mengurangi kembung karena kemampuan menyerap gas dari mikrobia TANGGUH probiotik ini.
  2. Meningkatkan penyerapan Lactosa susu yang susah diserap usus, sehingga Lactosa akan dirubah menjadi gulka sederhana yang mudah diserap.
  3. Menurunkan kadar kolesterol dalam daging ikan dan ternak. Hal ini karena kemampuan dari mikrobia dalam usus atau lambung hewan dalam melarutkan lemak dan mengubahnya menjadi energi.
  4. Meningkatkan penyerapan nutrisi, vitamin dan antioksi dan dari makanan yang diberikan.
  5. Menekan pertumbuhan bakteri E.Coli, salmonella, sp dan bakteri bakteri patogen lain, sehingga tercipta keseimbangan dalam lambung dan usus ternak dan ikan.
Untuk mencapai manfaat itu, khusus pemakaian TANGGUH Probiotik untuk ternak besar (RUMINANSIA) sangat efektif jika dicampurkan pakan hijauan, jerami dan sebagainya. Hal ini selain akan meningkatkan kualitas dari pakan hijauan atau jerami juga membantu usus dan lambung dalam mempercepat penyerapan nutrisi dari pakan tersebut. Selain itu diharapkan pada saat musim kering dimana di beberapa daerah susah untuk mendapatkan hijauan, akan membantu ketersediaan pakan ternak. Karena bisa di substitusi dari jerami padi, cangkang buah kakau dsb. Pemakaian TANGGUH Probiotik untuk fermentasi pakan ternak akan meningkatkan aroma dan rasa yang disukai ternak, hal ini karena dalam proses fermentasi tersebut senyawa-senyawa karbohidrat, protein, lemak dalam bentuk rantai panjang akan diubah menjadi senyawa rantai pendek seperti gula, amylum (pati), asam amino, dan asam-asam lemak yang aroma dan rasanya lebih disukai oleh ternak. Selain itu juga membantu proses penyerapan jika sudah masuk tubuh ternak.

2. TANGGUH PROBIOTIK UNTUK EKOSISTEM KOLAM DAN TAMBAK
Keberadaan mikrobia-mikrobia TANGGUH Probiotik di ekosistem perairan khususnya untuk budidaya udang atau ikan sangat-sangat diperlukan, karena akan membantu ikan dan udang untuk tidak mudah stres sehingga secara otomatis akan meningkatkasn kekebalan terhadap penyakit dan mengurangi tingkat kematian mendadak karena pengaruh lingkungan yang ekstrim. Pemakaian TANGGUH Probiotik ini akan membantu meningkatkan efektifitas dari pupuk TON (Tambak Organik Nusantara) sehingga kondisi perairairan menjadi seimbang dan nyaman untuk hidup ikan dan udang.
Sistem kerjanya adalah :

  1. Menguraikan senyawa-senyawa berbahaya di dasar kolam sebagai residu dari pakan yang tidak termakan, bangkai-bangkai ikan atau udang yang mati, pengendapan dari plankton yang mati, ganggang (klekap) dan sebagainya. Penguraian ini dapat bersifat aerob (Bantuan Kincir atau Aerator) atau an-aerob (Tanpa Oksigen atau Udara). Daei proses penguraian inilah kemudian dilepaskan CO2 yang kemudian ditangkap oleh phytoplankton untuk membantu proses fotosintesa pada siang hari. Selain itu penguraian oleh mikrobia juga bisa menurunkan kadar amonia dan H2S (Hidrogen Sulfida) di dalam air yang sangat beracun terhadap udang atau ikan. Sehingga secara otomatis juga berpengaruh terhadap kestabilan pH air atau tanah dasar kolam. Kondisi ini akan menyebabkan ikan atau udang hidup dengan nyaman di kolam atau tambak / empang dan tidak mudah stress.
  2. Meningkatkan kemampuan ekosistem kolam untuk mengendapkan dan mengikat logam-logam berat di tambak atau kolam yang kebanyakan berasal dari residu pestisida, limbah pabrik. Dengan proses chelat dan pertukaran ion maka logam-logam berat akan dijerab dan diendapkan sehingga tidak akan masuk ke dalam tubuh ikan atau udang, sehingga sehat untuk dikonsumsi manusia.
  3. Membantu mempercepat pembentukan plankton yang menguntungkan baik zooplankton maupun phytoplankton. Karena selain melepas CO2 dalam proses decomposisi, juga secara langsung membantu pemecahan mineral (Mineralisasi) senyawa-senyawa didalam kolam. Selanjutnya mineral ini merupakan nutrisi untuk phytoplankton yang membentuk warna air menjadi hijau, hijau kecoklatan, kuning kehijauan, coklat, dan merah (Warna plankton yang menguntungkan kehidupan ikan dan udang).
  4. Beberapa bakteri Nitrat,phospat dan kalium dalam TANGGUH Probiotik akan membantu ketersediaan ketiga unsur tersebut sehingga dalam sistem budidaya sudah tidak diperlukan pupuk N (Urea), P (SP-36), dan K (KCL).
  5. Mempertahan kondisi ekosistem air (AQUATIK) yang seimbang, sehingga parameter yang mendukung juga lebih stabil, seperti suhu / temperatur tidak mudah berubah-ubah baik kondisi hujan dan perubahan siang dan malam, pH lebih stabil di kisaran netral, Oksigen terlarut (DO : Dissolve Oxigen) lebih terjaga, kandungan gas beracun bisa tertekan (amonia, H2S) dan siklus kematian plankton lebih panjang.
  6. Menekan berbagai penyakit dan patogen dalm air dan dasar kolam. Karena kemampuan mikrobia di dalam TANGGUH Probiotik yang mampu mensekresikan senyawa-senyawa antimikrobia.
Yang perlu mendapatkan perhatian adalah, bahwa pemakaian TANGGUH PRObiotik di air jangan sampai di campur dengan pupuk kandang, Limbah-limbah pabrik dan sampah. Hal ini untuk menghindari rekayasa lingkungan yang terlalu ekstrim di dalam kolam atau tambak, karena bahan-bahan diatas komposisinya belum bisa dipertanggung jawabkan.

TANGGUH PROBIOTIK sebelum dipakai langsung ke kolam bisa di aktivasi dengan bahan-bahan seperti Gula, Dedak (Bekatul), Jus Pisang, Putih Telur atau Ragi (Yeast). Pemberian bahan-bahan ini akan membantu aktivasi sel-sel spora yang dorman, dan menyiapkan makanan duluan sebelum dipekerjakan di kolam atau tambak. Tetapi jika dipakai langsung ke air sudah bisa memberikan pengaruh positif secara langsung juga, karena begitu berinteraksi dengan nutrisi organik dasar kolam atau air akan bereaksi sama juga.


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More